Minggu, 21 April 2013

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI DALAM MEWUJUDKAN WARGA NEGARA YANG BAIK


Pendahuluan
Pada dasarnya, penanaman disiplin yang dilakukan oleh orang tua bertujuan untuk mengatur perilaku anak agar menjadi anak yang baik. Namun kenyataannya, sering kali disiplin diterapkan secara kaku tanpa melihat kebutuhan perkembangan anak. Dengan pengertian lain, dalam menanamkan disiplin, sering kali dipakai ukuran-ukuran orang dewasa. Terkadang disiplin diterapkan secara tidak konsisten, misalnya anak dihukum karena melakukan perbuatan yang salah, namun pada kesempatan lain si anak dibiarkan saja walaupun melakukan perbuatan yang sama.
Anak memerlukan gambaran yang jelas tentang tingkah laku yang diperbolehkan dan yang dilarang. Si anak merasa lebih aman apabila ia mengetahui secara pasti batas-batas perbuatan yang diizinkan. Cara menyatakan batasan pun harus dipikirkan dengan baik. Harus dicari jalan bagaimana mengemukakannya dengan tetap menghormati harga diri anak tanpa melukai perasaannya. Memberikan larangan harus dilakukan dengan mengungkapkan kewibawaan, bukannya penghinaan dan cemoohan.
Biasanya orang tua berpikir, akan lebih gampang jika membiarkan pelanggaran anak daripada meributkannya. Karena bagaimanapun juga, disiplin menuntut usaha keras.
Banyak orang tua di zaman sekarang yang memanjakan anak dan menafsirkan tindakan demikian sebagai pernyataan cinta. Namun sebenarnya, tindakan itu merupakan tambahan pada teknik orang malas.
Kita seyogianya mengingatkan diri, sebagaimana dalil mengajarkan, bahwa hukuman harus korektif dan bukannya bersifat pembelaan. Banyak faktor dihubungkan dengan disiplin tanpa harus menghancurkan atau mengabaikan faktor yang perlu.
Orang tua harus berusaha untuk selalu membuat disiplin itu tepat dan mengena. Kecakapan dan ketangkasan dalam hal ini membawa hasil yang akan membimbing anak untuk hidup tertib. Akhirnya, dengan sendirinya si anak akan menyadari kesalahannya sehingga ia dapat memperbaikinya kemudian.
Menjalankan disiplin harus dengan suasana tenang. Penyampaian atau penjelasan arti disiplin harus dilakukan dengan lemah lembut dan akrab. Hal tersebut akan menolong si anak untuk menyadari kesalahannya dan mendorong dia memperbaikinya. Namun dalam hal ini, sering kali orang tua bertindak salah. Saat memberi nasihat atau memperbaiki kesalahan anak, orang tua melakukannya sambil marah. Marah ketika mendisiplin hanya akan membuat anak kehilangan harga diri di mata orang tuanya. Hal tersebut juga dapat membuat si anak merasa kebingungan dan tidak dapat mengubah perbuatannya yang salah.
Dalam mendisiplin anak, hendaknya orang tua bisa bersikap tenang dan tidak melakukannya dengan marah, agar si anak menjadi yakin bahwa orang tua tidak hanya sekadar menghukum, tetapi juga mendisiplin mereka.
Dalam menilai kesalahan anak, sebaiknya orang tua dapat bersikap jujur. Menilai kesalahan dengan cara jujur akan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mencari tahu letak kesalahan.
Orang tua dapat mengambil tiga macam sikap dalam menentukan disiplin terhadap anak, yaitu keras, longgar, atau serba memperbolehkan. Namun, ada perbedaan besar antara sikap longgar dan serba membolehkan.
Bersikap longgar berarti menerima anak sebagaimana adanya, dengan segala sifat dan tingkah lakunya sebagai anak. Hakikat sikap longgar ialah menerima anak sebagai pribadi yang mempunyai hak-hak asasi. Sebagai pribadi, anak berhak untuk mempunyai gagasan, harapan- harapan, dan keinginan sendiri. Hak itu harus kita terima, kita akui, dan kita hormati.
Sedangkan sikap orang tua yang serba membolehkan akan memberi peluang kepada anak untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Sikap seperti itu sering bersarang pada diri orang tua yang sibuk setiap hari. Kesibukan membuat mereka tidak memiliki cukup kesempatan untuk membimbing anak. Pada dasarnya, sikap membolehkan dapat merusak wewenang orang tua sebagai ayah atau ibu yang memiliki otoritas. Akhirnya, keyakinan anak jadi luntur. Malah terkadang si anak merasa seolah-olah bukan sebagai anggota keluarga karena ia tidak pernah menerima suatu hukuman di rumahnya.
Sikap yang keras biasa terdapat pada banyak orang tua. Keinginan- keinginan orang tua disalurkan kepada anak, seolah-olah memaksakan kehendak sendiri. Sikap yang otoriter ini sangat menyusahkan dan membuat pribadi anak terinjak-injak. Karenanya, anak bisa bersikap seperti menentang otoritas orang tuanya.
Sebenarnya, ada suatu pandangan lama dan pandangan baru mengenai hal disiplin. Dalam pandangan lama mengenai disiplin terhadap anak, orang tua hanya mencegah perbuatan yang tidak diinginkan
Pengertian Karakter
Dalam Webster’s Dictionary, pengertian kata karakter berarti ”the aggragate features and traits that form the apparent individual nature of same person or thing; moral or ethical quality; qualities of honesty, courage, integrity; good reputation; an account of the cualities or peculiarities of a person or thing”. Karakter merupakan totalitas dari ciri pribadi yang membentuk penampilan seseorang atau obeyek tertentu. Ciri-ciri personal yang memiliki karakter terdiri dari kualitas moral dan etis; kualitas kejujuran, keberanian, integritas, reputasi yang baik; semua nilai tersebut di atas merupakan sebuah kualitas yang melekat pada kekhasan personal individu. Sedang menurut Ensiklopedia Indonesia, karakter memiliki arti antara lain; keseluruhan dari perasaan dan kemauan yang tampak dari luar sebagai kebiasaan seseorang bereaksi terhadap dunia luar dan impian yang diidam-idamkan (Tan Giok Lie, 2007; 37). Pengertian karakter dilihat dari sudut pendidikan, didefinisikan sebagai stuktur rohani yang terlihat dalam perbuatan, dan terbentuk oleh faktor bawaan dan pengaruh lingkungan. Karakter mengacu pada kehidupan moral dan etis seseorang untuk mengasihi Tuhan dan sesama, yaitu kebajikan moral untuk berbaut baik.
Karakter adalah sesuatu yang dipahatkan pada hati, sehingga menjadi tanda yang khas, karakter mengacu pada moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Karakter bukan merupakan gejala sesaat, melainkan tindakan yang konsisten muncul baik secara batiniah dan rohaniah. Karakter semacam ini disebut sebagai karekter moral atau identitas moral. Karakter mengacu pada kebiasaan berfikir, berperasaan, bersikap, berbuat yang memberi bentuk tekstur dan motivasi kehidupan seseorang. Karakter bersifat jangka panjang dan konstan, berkaitan erat dengan pola tingkah laku, dan kecenderungan pribadi seseorang untuk berbuat sesuatu yang baik.
Karekter adalah serangkaian nilai yang operatif, nilai yang nyata sebagai aktulisasi dalam tindakan. Kemajuan karakter adalah pada saat suatu nilai berubah menjadi kebajikan. Kebajikan dan kemurahan adalah kecenderungan batiniah seseorang yang merespon berbagai situasi dengan cara diungkapkan dengan baik secara moral. Karakter selalu mengacu pada kebaikan yang terdiri dari tiga bagian yaitu mengetahui yang baik, menginginkan yang baik dan melakukan yang baik. Ketiga kebiasaan ini didasarkan pada kebiasaan pikiran, hati dan kehendak. Karekter sebagai sesuatu yang melekat pada personal yaitu totalitas ide, aspirasi, sikap yang terdapat pada individu dan telah mengkristal di dalam pikiran dan tindakan (Tan Giok Lie, 2007; 37). Manusia hanya dapat mengamati karakter secara eksternal dan parsial, dari kebiasan, pola pikir, pola sikap, pola tindak atau pola merespon secara emosional dan pola dalam bertingkah laku. Manusia bisa salah dalam memberikan penilain terhadap karakter individu, hanya individu itu sendirinya yang mengetahui siapa jati dirinya.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Anak usia dini mempunyai batasan dan pengertian beragam, tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Secara tradisional pemahaman tentang anak usia dini sering disamakan dengan manusia dewasa dalam bentuk mini, masih polos dan belum mampu berfikir luas. Akibatnya anak usia dini sering diperlakukan sebagai orang dewasa kecil. Namun dalam perkembangan kemudian, ternyata anak usia dini berbeda dengan orang dewasa, sehingga diperlukan pendidikan secara khusus bagi anak usia dini sesuai dengan pertumbuhan fisik, emosianal, kejiwaan (Sofia Hartati, 2005: 7).
Anak usia dini merupakan masa keemasan (goleden ege) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan, sekaligus masa yang kritis bagi kehidupan anak. Penelitian menunjukan bahwa sejak lahir anak memiliki 1000 milyar sel otak, sel ini harus dirangsang dan didayagunakan agar terus hidup dan berkembang dan jika tidak dirangsang sel ini akan mengalami penerunan dan berdampak pada pengikisan segenap potensi yang dimiliki anak. Bejamin S. Bloom mengemukakan bahwa 50% kecerdasan anak terjadi pada usia 0-4 tahun, bertambah pada usia 8 tahun dan mencapai 100 % pada usia 18 tahun (UNY, 2007; 1). Robert J. Havinghurst menyetakan bahwa perkembangan pada awal akan mempengaruhi perkembangan berikutnya, sehingga apabila anak mengalami kegagalan dalam perkembangan, maka anak akan mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas selanjutnya. Hal yang sama diunkapkan Slamet Suyanto; anak usia dini sedang dalam pertumbuhan baik fisik dan mentalnya. Pertumbuhan saraf otaknya dimulai sejak dalam kandungan, dan ketika lahir sel saraf otak terus berkembang. Teori mengatakan, sampai usia 4 tahun 50% kecerdasan telah tercapai, dan 80% kecerdasan tercapai pada usia 8 tahun (Slamet Suyanto, 2005: 7). Apabila anak telah gagal dalam pembentukan karakter awal, anak tersebut akan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi.
Anak usia dini mengalami perkembangan fisik dan motorik, tak kecuali perkembangan kepribadian, watak, emosional, intelektual, bahasa, dan moralnya yang bertumbuh dengan pesat. Oleh karena itu usia dini desebut sebagai golden age (usia 0-8 tahun). Oleh karena itu jika menghendaki bangsa yang cerdas, dan memiliki karakter yang baik pendidikan harus dimulai sejak usia dini.
Menurut Slamet Suyanto dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Pembelajaran Anak usia dini” mengatakan bahwa PAUD merupakan ilmu yang bersifat interdisipiner, meliputi; Pendidikan anak usia dini, Psikologi perkembangan anak, Biologi perkembangan, Neoroscience, Pendidikan jasmani, Pendidikan bahasa dan seni, dan pendidikan bidang sutudi termasuk pendidikan karakter (Slamat Suyanto, 2006: 1). Sedang prinsip-prinsip dalam proses belajar mengajar dalam PAUD antara lain; Appropriate yaitu pembelajaran yang disesuaikan dengan tumbuh kembang jiwa anak, esensi bermain, holistik atau menyeluruh, terpadu atau integrated, bermakna, long life skills dan fleksibel
Keluarga memiliki peran penting dalam membentuk watak bagi perkembangan anak. Oleh karena dalam keluarga anak mendapatkan pengalaman pertama dan utama. Geerts mengemukakan bahwa melalui penggalaman keluarga anak memperoleh pengertian, perlengkapan emosional, ikatan-ikatan moral yang memungkinkan bertindak sebagai orang dewasa dalam masyrakatnya. Penelitian Baumrid dan Chen menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berpengaruh terhadap perkembangan sosial dan akademik anak. Oleh karena itu diperlukan pengasuhan yang memandai, penelitian Zevalkink menunjukkan bahwa orang tua di Indonesia kurang memberi dorongan emosional, kurang menghargai kemandirian anak, cenderung menekan pada perilaku moral.
UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 28 jenjang pendidikan dasar (1); PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur formal dan non formal atau informal (2); PAUD jalur informal berbentuk pendidikan keluarga atau diselenggarakan oleh lingkungan. Program PAUD saat ini masih terfokus pada jalur formal dan non formal , jalur pendidikan informal belum mendapat perhatian. Oleh karena itu diperlukan upaya yang sistematis
untuk mengembangkan program PAUD melalui jaur informal untuk mewujudkan SDM yang berkualitas di masa mendatang.
Dalam usaha mentarsfer nilai-nilai pembentuk karakter digunakan pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan tumbuh kembang jiwa anak usia dini. Menurut Habibah (Habibah, 2007: 1) dalam sosialisasi pendidikan karakter dapat digunakan pendekatan indoktrinasi, klasifikasi nilai, keteladanan, dan perilaku guru. Keempat pendekatan tersebut di atas diharapkan dapat diterapkan sesuai dengan situasi keondisi serta dilakukan secara holistik sehingga tidak akan terjadi tumpang tindih. Pendekatan di atas juga diharapkan guru mengetahui karakteristik siswa maupun kondisi kelas, dan seorang guru harus memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan psikologi pendidikan sehingga kelas kondusif untuk pembelajaran karakter (Sri Rumini, 1995: 19-20).
Pendekatan indoktrinasi dengan cara memberi hadiah atau hukuman, peringatan, dan pengendalian fisik. Sedang pendekatan klasifikasi nilai pembentuk karakter, dengan cara penalaran dan ketrampilan. Pendekatan keteladanan dengan cara disiplin, tanggung jawab, empati, dan pendekatan pembiasaan dengan cara perilaku seperti berdoa, baca kitab suci, berpuasa, memuji Tuhan, berterima kasih. Pendekatan habitus diharapkan dapat merubah perilaku anak usia dini memiliki karakter yang baik (Ambarwati, 2007: 1).
Keberhasilan pembangunan pendidikan, khusunya pendidikan karakter di China patut kita tiru. Pendidikan karakter anak usia usia dini China berbeda dengan pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan pada karakter akhlak (implementasi niali) melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good, yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan aspek fisik, sehingga menghasilkan karakter yang baik bisa terukir menjadi habit of the mind, habit of the hart, habit of the hands (Google Pendidikan Karakter, 2007: 1). Pendidikan karakter memerlukan keterlibatan semua aspek kehidupan manusia, sehingga tidak cocok hanya menekankan pada aspek kognitif saja, hal ini dapat membunuh karekater anak. Namun pendikan karakter bagi anak anak usia dini harus disesuikan dengan perkembangan jiwa anak, mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia; intelektual, karekater, estetika, dan fisik dan dalam koridor pembelajaran nilai pembentuk karakter yang menyenangkan (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 203: 8).
Dalam membentuk karakter diperlukan pemimpin pembentuk karakter yang kuat, karena peradaban yang besar dibentuk oleh pemimpin kuat sebagai fasilitator terbangunnya individu dan kominitas berkarakter. Pemimpin sebagai reformator yang memiliki integritas seperti Musa, Yosoa, Gidion, Daud, Nehemia, Yohanes Pembabtis, Tuhan Yesus. Segala sesuatu jatuh dan bangun karakter anak yang baik tergantung pemimpinnya (orang tuanya). Unsur kepribadian pemimpin yang paling menentukan adalah karakter yang berintegritas. Pembentukan karakter adalah sesuatu yang normatif, meskipun prosesnya sepanjang hidup. Pembentukkan karakter tidak hanya menyentuh aspek koqnitif, tetapi sisi hati dan komitmen. Keduanya menjadi syarat untuk mengmbangkan karakter dan identitas moral individu. Dengan cara ini karakter Ksristus akan nampak dalam kehidupan anak usia dini.
Membentuk Karakter Anak Usia Dini
Pembentukan karakter terjadi karena dua unsur yaitu faktor indogin dan eksogin; faktor indogin secara psikologis manusia memiliki karakter bawaan seperti sifat-sifat kolerik, sanguinis, flagmaitik dan melangkolis. Namun demikian tidak menutup kemungkinan gabungan di antara karakter model-model yang memiliki sifat-sifat tersebut di atas. Karakter bawaan ini bisa dibentuk menjadi karakter ideal melalui pendidikan sejak usia dini, sehingga menghasilkan watak yang baik sesuai dengan nilai-nilai diharapkan oleh komunitas dan jiwa jaman.
Faktor eksogin atau pengaruh dari luar bisa berupa pengaruh keluarga, pendidikan formal, non formal dan masyarakat yang melingkupi kehidupan personal. Melalui kehidupan lingkungan individu dibantuk lewat interaksi dinamis yang saling mempengaruhi. Interaksi
dialektis dinamis, ini akan menghasilkan manusia yang selalui siap menghadapi perubahan jaman khsususnya bagi anak usia dini.
Secara sosiologis kehidupan manusia dalam berinteraksi dipengaruh oleh konsep intenasliasi dan eksternalisasi, maksudnya ketika anak usia dini dilahirkan dalam keluarga, individu ini harus mempelajari bahasa lingkungan dan memasukkan kenyataan eksternal menjadi kenyataan satu dengan dirinya. Bahasa sebagai kenyataan eksternal masuk ke dalam diri anak usia dini dan menjadi kenyataan internal. Proses memasukkan kenyataan eksternal ke dalam dan menjadi kenyataan internal, disebut internaliasai (Robet MZ Lawang, 1986: 22). Jadi dalam pembentukan karakter anak dipengaruhi oleh lingkungan dan anak usia dini memberi respon untuk menerima pengaruh dari luar.
Pembentukan karakter yang paling efektif jika dimulai dari lingkungan keluarga dan diterapkan sejak usia dini. Usia dini mencakup tahun-tahun pertama kehidupan, khususnya pereode lima tahun pertama. Pada pereode awal terbentuknya kepribadian seseorang. Menurut Jean Piaget dan Lewrence Kohlberg, moralitas anak bersifat heteronomos; moralitas anak dibentuk oleh norma yang ditanamkan oleh individu dari luar dirinya yaitu mereka yang berhubungan paling dekat dengannya, terutama lingkungan keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, adik dan kakak.
Dalam usaha mensosialisasikan nilai-nilai pembentuk karakter peserta didik sering mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan bagaimana harus berpikir, berkeyakinan dan bertingkah laku sebab apa yang dimengerti belum tentu sama dengan apa yang terjadi dalam masyarakat yang penuh konflik nilai. Televisi dan koran, teman bermain memberikan informasi yang berbeda dengan apa yang ada dalam keluarga maupun yang terjadi di masyarakat, sehingga hal ini sangat membingungkan peserta didik untuk menentukan pilihan nilai yang membentuk karakter. Peserta didik sulit menentukan pilihan nilai yang terbaik, akibat dari tekanan dan propaganda teman sebaya. Dalam hal ini jika pendidikan nilai pembentuk karakter agar berhasil perlu mengajarkan secara langsung kepada anak didik dengan memberi keteladanan secara langsung seperti sebagaimana seharusnya. (Parjono, 2005: 1).
Transfer nilai untuk membentuk karakter kepada peserta didik juga dapat digunakan dengan metode secara moderat ( ada 3 pola asuh: Otoriter, Demokratis, Permisif atau tidak dikontrol) karena didunia ini tidak ada sistem yang sempurna. Oleh karena itu peserta didik harus mengolah dan memiliki normanya sendiri untuk mewujudkan karakter ideal. Berdasarkan penelitian Lewin dkk (Gerungen, 1987; 84) pendidikan anak yang diasuh secara otoriter cenderung mempunyai karakter dengan ciri- ciri menunggu dan menyerah segala-galanya pada pengasuhnya, disamping itu mempunyai sikap keagresipan, cemas dan mudah putus asa. Sedang pendidikan dengan pola asuh demokratis menghasilkan karakter dengan ciri-ciri berinisiatif, berani, lebih giat, dan lebih bertujuan.
Pola asuh demokratis bersifat dua arah dalam bentuk dialog, namun keputusan terakhir tetap di tangan kepala keluarga. Dalam pola asuh ini pendapat anak didengarkan dan dihargai. Apabila pendapatnya baik benar, rational, mempunyai argumen kuat orang tua akan menerima pendapatnya. Hubungan antara anak dan orang tua penuh kehangatan. Anak yang didik dengan pola ini akan penuh percaya diri dan terbuka dikoreksi bila melakukan kesalahan, serta lebih bertanggung jawab karena dipercaya oleh orang tuanya. Dengan pola asuh demokratis, orang tua hadir sebagai teladan yang berkomunikasi dengan anaknya.
Pendidikan dengan pola otoriter menghasilkan karakter anak dengan ciri-ciri makin tidak taat, sikap menunggu, tidak melakukan sesuatu, daya tahan kurang, dan menunjukkan ciri takut. Sedang orang tua permisif ; kurang tegas dalam menerapkan peraturan yang ada, anak diberi kesempatan untuk berbuat bebas untuk memenuhi keinginannya. Jadi pola asuh orang tua berpengaruh terhadap karakter anak asuhnya.
Pendekatan yang ideal dalam membentuk karakter anak adalah dengan menggabungkan pendekatan jalan tengah maksudnya menggabungkan pendekatan permisif dan pola asuh otoritatif. Orang tua berusaha menyeimbangkan antara wibawa dan pikiran, antara kontrol dan
dorongan, antara peraturan dan ketaatan, antara hak dan minat orang tua dan hak minat anak. Anak yang didik secara otoritatif akan bertumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, bermotivasi tinggi, ramah, bermoral, kooperatif, bergaul luas, percaya diri karena mempunyai harga diri yang luas (Tan Giok Lie, 2007; 43). Orang tua yang baik akan memberi kecenderungan anaknya memiliki karekter yang baik pula, sebab buah akan jatuh tidak jauh dari pohonnya; anak akan mempunyai kecenderungan memiliki transfer karakter dari orang tua yang mengasuhnya
Sosialisasi nilai-nilai pembentuk karakter harus diberikan kepada anak usia dini, karena anak usia dini sebagai generasi penerus kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Pendidikan karakter bisa disosialisasikan melalui lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, dan akan lebih efekktif lagi jika melalui peraturan formal, dan para guru wajib mengintegrasikan dalam mata pelajaran sekaligus memberi keteladanan dalam karakter yang baik. Pemerintah sebagai lembaga formal juga wajib menyensor tanyangan TV yang menampilkan gambar-bambar atau cerita yang mengakomodasikan bentuk karakter yang baik.
Pendidikan karakter diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi personal dan sosial sehingga menjadi warga negara yang baik (good care atau good citizen) dengan ciri-cirinya antara lain: berani mengambil sikap positif untuk menegakkan norma-norma sosial, membuat aturan hukum yang kondusif untuk kebaikan dan nilai-nilai moral demi masa depan bangsa yang mengedepankan nilai-nilai kasih yang baik, anti diskriminasi, inklusifisme, humanisme, pluralisme, kebebasan, persamaan, persaudaraan, kesatuan, kebangsaan, kebhinekaan, multikultural, nasionalisme, demokrasi dan demokratisasi yang bersumber pada nilai firman Tuhan (Alkitab) sebagai paradigmanya..
Diberikannya pendidikan karakter pada anak usia dini merupakan salah satu alternatif solusi penyelesaian untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang kontraproduktif dalam masyarakat Indonesia. Dengan tersosialisasikan pendidikan karakter diharapkan generasi penerus dapat memahami, menganalisis, menjawab masalah-masalah yang dihadapi masyarakat yang berhubungan dengan hal yang negatif dan dapat membangun kehidupan secara berkesinambungan, konsisten yang bersumber pada nilai-nilai moral agama sehingga cita-cita bangsa dapat terwujud perdamain abadi anti kekerasan.
Generasi tua hanya memberikan norma-norma yang sudah dibakukan dalam norma yang berlaku dan mengajarkannya untuk membentuk karakter anak, sehingga peserta didik tidak merasa disitir dan digurui, mereka dibiarkan untuk bareksprimen, berdialog dengan dirinya atau merenungkan ajaran orang tua siang dan malam, maka hidupnya akan berhasil (memiliki karakter yang baik) seperti dalam Mazmur 1 (LAI; 2006; 754), sehingga peserta didik menemukan apa yang dikehendakinya dan tidak bertentangan dengan nilai subtansial.
Cara lain untuk memindahkan nilai dengan cara memodelkan, dengan asumsi bahwa Orang tua (panutan) menampilkan diri dengan nilai tertentu sebagai model yang mengesankan, maka harapannya generasi muda akan meniru model yang diideolakan. Namun demikian model-model tingkah laku dan sikap yang berhubungan dengan nilai sering ditampilkan oleh banyak orang yang berbeda-beda sehingga anak bisa mengalami kebingungan dalam menentukan nilai untuk membentuk karakternya. Oleh karena itu orang dewasa harus mengajar nilai-nilai dan norma berulang-ulang kepada anak-anak dan membicarakannya pada waktu di rumah, dalam perjalanan, waktu ditempat tidur dan pada waktu bangun pagi. Nilai dan norma harus diikatkan sebagai tanda pada tangan dan dahi, dan menuliskan pada tiang pintu dan gerbang. Atau seluruh kehidupan dan aktivitas serta lingkungan hidup dijadikan media untuk sosialisasi nilai-nilai untuk membentuk karakter (LAI, 2003: 200.). Dalam mengemplementasikannya pada kehidupan sehari-hari di bidang politik, ekonomi, budaya kerja sebetulnya telah dibantu dengan Etika untuk membentuk karakter ideal sehingga tidak perlu ragu-ragu untuk bertindak yang benar (J. Verkulyl, 1985.: 23).
Dalam usaha transfer nilai juga diperlukan tidak hanya difokuskan pada isi nilai, tetapi lebih dipentingkan dalam proses nilai, maksudnya proses bagaimana seseorang sampai pada suatu pemilihan nilai pembentuk karakter (Parjono, 2005: 2).
Prinsip pembelajaran nilai merupakan pembelajaran yang efektif yang harus menempatkan peserta didik melakukannya, mereka harus diberi kesempatan untuk belajar secara aktif baik pisik maupun mental. Aktif secara mental bila peserta didik aktif berfikir dengan menggunakan pengetahuannya untuk mempersepsikan pengalaman yang baru disamping secara fisik dapat diamati keterlibatannya dalam belajar sehingga nilai itu telah menjadi bagian dari hidupnya.
Dalam pembelajaran nilai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pembelajaran nilai dapat efektif yaitu perbuatan dan pembiasaan. Oleh karena dengan perbuatan siswa dapat secara langsung melakukan pengulangan perbuatan agar menjadi kebiasaan (habit) dan akhirnya menjadi budaya. Atau akhirnya menjadi karakter mereka.
Interaksi antara panutan yang memberi keteladanan pada peserta didik dan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran nilai sangat menguntungkan untuk tranfer nilai melalui saling membagi dalam pengalaman. Guru yang baik juga dapat mengerti perasaan, pemahaman, jalan pikiran peserta didik dan mereka diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan sekaligus dapat memberi jalan keluar dalam pergumulan pemilihan nilai yang ada tanpa mengindoktrinasi.
Melalui pemahaman yang mendalam terhadap materi pembelajaran nilai pembentuk karakter, peserta didik dapat memilih berbagai alternatif nilai yang ada dan mengamalkan sebagai ujud aktualisasi diri. Orangtua sebagai panutan yang meberi hidupnya bagi peserta didik diharapkan dapat merefleksi diri melalui perasaan dan pikirannya setelah merenung dan mendapat masukan sehingga dapat mngetahui sejauh mana pemahaman dan pengamalan nilai yang telah diterima dan dilakukan siswanya.
Sosialisasi nilai-nilai pembentuk karakter harus diberikan kepada anak usia dini, karena anak usia dini sebagai generasi penerus kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Pendidikan karakter bisa disosialisasikan melalui lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, dan akan lebih efekktif lagi jika melalui peraturan formal, dan para guru wajib mengintegrasikan dalam mata pelajaran sekaligus memberi keteladanan dalam karakter yang baik. Pemerintah sebagai lembaga formal juga wajib menyensor tanyangan TV yang menampilkan gambar-bambar atau cerita yang mengakomodasikan bentuk karakter yang baik.
Pendidikan karakter diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi personal dan sosial sehingga menjadi warga negara yang baik (good care atau good citizen) dengan ciri-cirinya antara lain: berani mengambil sikap positif untuk menegakkan norma-norma sosial, membuat aturan hukum yang kondusif untuk kebaikan dan nilai-nilai moral demi masa depan bangsa yang mengedepankan nilai-nilai kasih yang baik, anti diskriminasi, inklusifisme, humanisme, pluralisme, kebebasan, persamaan, persaudaraan, kesatuan, kebangsaan, kebhinekaan, multikultural, nasionalisme, demokrasi dan demokratisasi yang bersumber pada nilai firman Tuhan (Alkitab) sebagai paradigmanya..
Diberikannya pendidikan karakter pada anak usia dini merupakan salah satu alternatif solusi penyelesaian untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang kontraproduktif dalam masyarakat Indonesia. Dengan tersosialisasikan pendidikan karakter diharapkan generasi penerus dapat memahami, menganalisis, menjawab masalah-masalah yang dihadapi masyarakat yang berhubungan dengan hal yang negatif dan dapat membangun kehidupan secara berkesinambungan, konsisten yang bersumber pada nilai-nilai moral agama sehingga cita-cita bangsa dapat terwujud perdamain abadi anti kekerasan.
Anak usia dini mempunyai batasan dan pengertian beragam, tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Secara tradisional pemahaman tentang anak usia dini sering disamakan dengan manusia dewasa dalam bentuk mini, masih polos dan belum mampu berfikir luas. Akibatnya anak usia dini sering diperlakukan sebagai orang dewasa kecil. Namun dalam perkembangan kemudian, ternyata anak usia dini berbeda dengan orang dewasa, sehingga diperlukan pendidikan secara khusus bagi anak usia dini sesuai dengan pertumbuhan fisik, emosianal, kejiwaan agar memiliki karakter yang baik (Sofia Hartati, 2005: 7).
Dalam usaha mentarsfer nilai-nilai budi pekerti dapat digunakan pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan tumbuh kembang jiwa anak usia dini. Menurut Habibah (Habibah, 2007: 1) dalam sosialisasi pendidikan anti kekerasan dapat digunakan pendekatan indoktrinasi, klasifikasi nilai, keteladanan, dan perilaku guru. Keempat pendekatan tersebut di atas diharapkan dapat diterapkan sesuai dengan situasi keondisi serta dilakukan secara holistik sehingga tidak akan terjadi tumpang tindih. Pendekatan di atas juga diharapkan guru mengetahui karakteristik siswa maupun kondisi kelas, dan seorang guru harus memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan psikologi pendidikan sehingga kelas kondusif untuk pembelajaran anti kekerasan (Sri Rumini, 1995: 19-20).
Pendekatan indoktrinasi dengan cara memberi hadiah atau hukuman, peringatan, dan pengendalian fisik. Sedang pendekatan klasifikasi nilai anti kekerasan, dengan cara penalaran dan ketrampilan. Pendekatan keteladanan dengan cara disiplin, tanggung jawab, empati, dan pendekatan pembiasaan dengan cara perilaku seperti berdoa, berterima kasih. Pendekatan habitus diharapkan dapat merubah perilaku aanti kekerasan anak usia dini (Ambarwati, 2007: 1).
Sedang dalam mensosialisasikan nilai-nilai anti kekrasan dapat digunakan metode bercerita (mendongeng), baik secara langsung, menggunakan ilustrasi, menggunakan papan planel, media boneka, Audio visual, Sosio drama. Metode bercerita khususnya menggunkan “dongeng” sangatlah menarik karena alur cerita, tujuan cerita, puncak cerita dan akhir cerita dapat direncanakan sehingga tujuan pembelajaran anti kekerasan lebih terarah dan terfokus untuk membentuk perilaku yang baik. Metode lain yang bisa digunakan antara lain; metode karya wisata, bermain yang berkaitan dengan menggunakan media seni rupa, seni musik sekaligus sebagai sarana untuk dapat membentuk perkembangan emosi dan kepribadian yang bermuatan anti kekerasan. Jadi pendidikan anti kekerasan harus dilakukan dengan pendekatan holistik dan terfokus untuk membentuk warga negara yang baik masyarakat, dan akan lebih efekktif lagi jika melalui peraturan formal, dan para guru wajib mengintegrasikan dalam mata pelajaran sekaligus memberi keteladanan anti kekerasan. Pemerintah sebagai lembaga formal juga wajib menyensor tanyangan TV yang menampilkan gambar-bambar atau cerita yang mengakomodasikan kekerasan.
Pendidikan Anti kekerasan diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi personal dan sosial sehingga menjadi warga negara yang baik (good care atau good citizen) dengan ciri-cirinya antara lain: berani mengambil sikap positif untuk menegakkan norma-norma sosial anti kekerasan, membuat aturan hukum yang kondusif untuk kebaikan dan nilai-nilai moral anti kekerasan demi masa depan bangsa yang mengedepankan nilai-nilai anti kekerasan, anti diskriminasi, inklusifisme, humanisme, pluralisme, kebebasan, persamaan, persaudaraan, kesatuan, kebangsaan, kebhinekaan, multikultural, nasionalisme, demokrasi dan demokratisasi yang bersumber pada nilai anti kekerasan sebagai paradigmanya..
Diberikannya pendidikan Anti kekerasan pada anak usia dini merupakan salah satu alternatif solusi penyelesaian untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan dalam masyarakat Indonesia. Dengan tersosialisasikan pendidikan anti kekerasan diharapkan generasi penerus dapat memahami, menganalisis, menjawab masalah-masalah yang dihadapi masyarakat yang berhubungan dengan kekerasan dan dapat membangun kehidupan anti kekerasan secara berkesinambungan, konsisten yang bersumber pada nilai-nilai moral Pancasila sehingga cita-cita bangsa dapat terwujud perdamain abadi anti kekerasan.
Dalam kurikulum pendidikan di SD untuk mewujudkan warga negara yang baik sebetulnya peserrta didik sudah diberikan Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn), Pendidikan Agama, Pendidikan Ilmu Sosial terintegrasi serat dengan pendidikan karakter yang semuanya bermuara untuk mewujudkan Good Cetezen. Namun kenyataannya korupsi di Indonsia semakin masif baik lower class, medle class dan Uper class. Korupsi kelas bawah dapat dilihat dengan penjualan ayam tiren, penjualan sayuran yang disubal, tahu formalin, bakso formalin, ikan busuk yang diformalin, makanan dan susu kaleng kedaluwarso dll. Kalangan kelas menengah menjual motor, mobil dengan mengganti suku cadang palsu, menjual rumah tidak sesuai dengan perjanjian, banyak bahan bangunan yang dikorupsi. Kelas atas, melakukan korupsi dengan menggelembungkan anggaran proyek, laporan fektif dan korupsi menggunkan sistem birokrasi (Kleptokrasi).
Birokrasi keranjang sampah, perselingkuhan birokrat dan pengusaha pemimpin yang mementingkan diri sendiri, wakil rakyat yang tidak peduli penderitaan rakyat, KKN merajalela, hedonisme, materialisme, erotisme, kriminalitas semuanya bermuara dari terjadinya korupsi masif. Melalui pendidikan anti korupsi harapan penulis, bangsa Indonesia bisa diperbaiki perilakunya sehingga bangsa Indonesia bisa survaive dan generasi penerus dapat menikmati kejayaan negara bangsa dikemudian hari sebagaimana visi Indonesia 2030. Indonesia akan menjadi negara maju dan sejahtera, mandiri, produktif, memiliki daya saing, mampu mengelola kekayaan alam untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pendapatan per kapita $ 18.000 AS tiap tahun (Presiden Yudhoyono, Kompas, 23 Maret 2003, hal. 1).
Pendidikan merupakan institusi yang paling penting untuk mendidik generasi muda agar memiliki sikap, perilaku, mental untuk membrantas korupsi. Pendidikan agama dan moral memang penting bagi anak sekolah dasar (SD), tetapi pendidikan anti korupsi sangat penting dan mendesak. Oleh karena itu guru harus mengajarkan kepada peserta didik tentang pendidikan anti korupsi agar melalui pendidikan Anti korupsi korupsi dapat dibrantas di Nehgara Indonesia.
Pendidikan Karakter anak Usia Dini
Istilah pendidikan berasal dari kata paedagogi, dalam bahasa Yunani pae artinya anak dan ego artinya aku membimbing. Secara harafiah pendidikan berarti aku membimbing anak, sedang tugas pembimbing adalah membimbing anak agar menjadi dewasa. Pendidikan merupakan suatu upaya mengembangkan atau mengaktualisasikan seluruh potensi kemanusiaan ke taraf yang lebih baik dan lebih sempurna (Lutfi Wibawo, 2009: 13). Secara singkat Driyarkara yang dikutip oleh Istiqomah mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu usaha secara sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan atau pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan diri ke arah tercapainya pribadi dewasa, susila dan dinamis dan memiliki karakter yang baik (Istiqomah, 203: 7). Sedang hakekat Pendidikan karakter adalah penanaman nilai-nilai, norma-norma tingkah laku manusia yang harus dan wajib disosialiasikan dan di budayakan menjadi bagian dari hidupnya dalam kehidupan masyarakat.
Dalam mensosialisasikan nilai perlu adanya komitment para elit politik, tokoh masyarakat, guru, stakeholders pendidikan karakter, dan seluruh masyarakat. Sosialisasi Pendidikan karakter harus memperhatikan prinsip-prinsip antara lain:
“Pendidikan karakter adalah suatu proses, pendekatan yang digunakan secara komperhensip, pendidikan ini hendaknya dilakukan secara kondusif baik di lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat, semua partisan dan komunitas harus terlibat di dalamnya. Pendidikan karakter perlu disosiaalisasikan, dibudayakan bagi kepala sekolah, guru-guru, murid-murid, orang tua murid, dan komunitas pemimpin yang merupakan esensial utama. Perlu perhatian terhadap latar belakang murid yang terlibat dalam proses kehidupan karakter. Perhatian pendidikan karakter harus berlangsung cukup lama, sehingga menjadi bagian utama dari hidupnya dan pembelajaran karakter harus diintegrasikan dalam kurikulum secara praksis di rumah, sekolah dan masyarakat (Setyo Raharjo, 2002; 28).
Pendidikan karakter harus direncanakan secara matang oleh stakeholders , sebagai think-tank, baik para pakar moral, etika, karakter, pendidik seperti rohaniawan (tokoh agama), pemimpin non formal (tokoh masyarakat), kepala sekolah, guru-guru, orang tua murid. Pendidikan karakter ini harus memperhatikan nilai-nilai secara holistik dan uiniversal. Keberhasilan pendidikan karakter dengan keluaran menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi personal dan kompetensi sosial, dan dinamis sehingga menghasilkan warga negara yang baik (good citizen).
Dalam mensosialisasikan nilai-nilai karakter yang ideal pemimpin formal dan non formal bertanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan baik ranah organisasi negara (state), organisasi masyarakat (civil state), ranah istitusi dunia usaha (market institution). Semua pejabat negara, pejabat pemerintah mempunyai tanggung jawab menjadikan jabatannya sebagai media pembelajaran pendidikan karakter anak usia dini.
Dalam mewujudkan kehidupan karakter untuk mewujudkan masyarakat sipil perlu strategi perjuangan secara struktural dan kultural secara bersama-sama. Strategi struktural dalam arti politik, perbaikan struktural ini merupakan sarana yang paling efektif adalah melalui partai politik. Melalaui lembaga partai politik aspirasi masyarakat dapat disalurkan tentang pendidikan karakter anak usia dini akan diperjuangkan sebagai masukan dari infrastruktur politik kepada suprastuktur politik. Input dari infrastruktur politik kepada suprastruktur politik akan dijabarkan dalam bentuk kebijaksanaan atau undang-undang yang mewajibkan dilaksanakannya pendidikan bagi anak usia dini yang didukung dana dari pemerintah. Sementara secara kultural memerlukan perjuangan yang panjang. Perjuangan membangun mentalitas bangsa melalui nilai-nilai demokrasi dan mengandung nilaipembentuk karakter, harus diawali dari individu yang mengutamakan kehidupan yang menjunjung nilai-nilai karakter yang baik, disemaikan dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolahan dan masyarakat luas.
Dalam mensosialisasikan nilai-nilai karakter perlukan pemimpin atau pendekar, pejuang karakter yang tidak pernah gentar, putus asa atau frustasi meskipun rintangan, halangan, lingkungan tidak kondusif, dan harus berhadapan dengan lingkungan tidak baik. Dengan tidak jemu-jemunya meneriakkan sosialisasi pendidikan karakter yang baik untuk mewujudkan nilai karakter yang baik secara universal.
Pendekar anti koropsi pertama; harus yakin sungguh-sungguh yakin atau seyakin-yakinnya (percaya sungguh-sungguh percaya) bahwa nilai-nilai anti koropsi bisa dan harus disosialisasikan dengan sungguh-sungguh pada peserta didik sehingga perseta didik mengerti dan melaksanakan nilai-nilai anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Kedua; pemimpin (pendekar moral) harus berfikir sungguh-sungguh berfikir tidak pernah putus asa dan kehilangan akal untuk mencari solusi dalam pendidikan anti koropsi demi perbaikan peserta didik. Ketiga; pendekar anti koropsi harus berusaha sungguh berusaha untuk mewujudkan kehidupan anti koropsi yang baik dalam masyarakat. Pemimpin anti koropsi harus bersedia bersinergis dengan pemimpin lain untuk mewujudkan kehidupan anti korupsi yang baik dengan menggunakan konsep gold three angle yaitu kerjasama antara perguruan tinggi, pemerintah dan penyandang dana. Perguruan tinggi mengadakan R dan D (researth & development) dalam bidang pendidikan anti koropsi. Pemerintah termasuk pemimpin nasional yang memberi good will (kemudahan) melalui peraturan pemerintah dalam mensosialisasikan nilai-nilai anti koropsi.
Hasil riset perguruan tinggi diharapkan menambah alternatif pemerintah yang dapat dipilih sebelum menentukan kebijakan dilaksanakan, selain itu tenaga dosen bersama mahasiswa dapat mendampingi masyarakat dalam membrantas korupsi, sehingga perguruan tinggi dapat menjadi solusi dalam memecahkan persoalan-persoalan bangsa khsusnya dalam memecahkan persoalan korupsi. Mereka bisa bersinergis dan tidak saling menyalahkan, pakar-pakar ahli hukum di perguruan tinggi dapat memberi masukan pada pemerintah dan sekaligus terjun langsung ke masyarakat dengan langkah kongkrit untuk memperbaiki kehidupan bangsa yang anti koropsi (Victor Purba, Kompas, Kamis, 22 Maret 2007; 12).
Jadi nilai anti koropsi harus dibawa seorang penegak hukum yang meyakini kebenaran anti koropsi sebagai ideologi ideal harus ditanamkan pada setiap hati (personal, individu) agar suatu hari nanti kehidupan bangsa yang anti kropsi akan terwujud.
Dengan adanya benih nilai-nilai anti kropsi yang sudah disemaikan dalam keluarga, diajarkan di sekolah oleh guru dan masyarakat diharapkan setiap personal dapat mempraktikkan nilai anti kropsi dalam totalitas kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Modal nilai anti kropsi yang sudah ada dalam personal merupakan lahan yang subur bagi generasi penerus untuk mewujudkan kehidupan bersama dalam mewujudkan masyarakat sipil (civil society). Terlebih lagi dalam pembelajaran dan sosialisasi pendidikan anti koropsi dapat dimanfaatkan konsep learning to do, learning to be, learning to know, learning to live together. Pengertiannya dalam pembelajaran anti korupsi peserta didik diajak melakukan bersama-sama, pendidikan merupakan proses menjadi dewasa, sempurna sesuai dengan tujuannya, pendidikan anti koropsi dilaksanakan saat ini, dan pendidikan anti koropsi dilakukan bersama-sama dalam kehidupan masyarakat sehingga pendidikan antara di sekolah, rumah dan masyarakat saling mendukung untuk membentuk kehidupan yang lebih baik. Apalagi guru, orang tua murid, pemuka agama, pemuka masyarakat, elit politik, dan pejabat (pemimpin nasional) memiliki komitment yang tinggi untuk mewujudkan masyarakat yang anti koropsi dengan konsep “Ingarso sung tuladho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani” artinya seorang pemimpin yang baik bisa memberi keteladanan atau menjadi panutuan bagi yang dipimpinnya, ditengah-tengah lingkungannya menjadi penggerak untuk mencapai tujuan, sedang jika dibelakang memberi dorongan, petunjuk atau memberi motivasi bagi yang dipimpinnya sehingga sasarannya dapat dicapai. Konsep pendidikan anti koropsi di atas tidak hanya sebagai wacana tetapi harus diaktualisasikan ke dalam kehidupan nyata, sehingga pendidikan anti koropsi bisa mewujudkan masyarakat sipil yang dicita-citakan.
Pendidikan Anti Korupsi Anak Usia Sekolah Dasar
Usia sekolah dasar (sekitar umur 6,00 – 12,00 tahun), ini merupakan tahapan penting bagi perkembangan seorang peserta didik, bahkan suatu hal yang fondamental bagi kesuksesan perkembangan pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu seorang guru tidak boleh mengabaikan kehadiran anak usia sekolah dasar, demi kepentingan di masa depan bagi generasi penerus. Seorang guru dituntut untuk memahami karakteristik peserta didik, arti pentingnnya belajar bagi peserta didik, tujuan belajar bagi peserta didik, dan kegiatan belajar bagi anak SD, termasuk di dalamnya guru harus menguasai psikologi pendidikan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai (Sri Rumini, 1995: 15). Bagi sorang guru harus mengetahui perkembangan dan karakteristik peserta didik yang meliputi:
“1. Mereka (anak usia SD) secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi mereka sendiri.
2. Anak usia sekolah dasar senang bermain dan lebih suka bergembira
3. Anak SD suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi sesuatu situasi dan mencobakan hal-hal yang baru.
4. Anak SD bisa tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka mengalami ketidak puasan dan menolak kegagalan-kegagalan.
5. Mereka (anak usia SD) belajar secara efektif ketika mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi.
6. Anak SD belajar dengan cara bekerja, mengobserasi, berinisiatif dan mengajar anak-anak lainnya” (Mulyani Sumantri, 199: 17).
Secara moral, perkembangan manusia berjalan secara bertahap. Menurut Kolhberg, moralitas anti korupsi manusia tumbuh melalui tiga tingkatan. Pertama, tingkat prakonvensional. Pada tingkatan ini, moral anak memiliki dua tahap: tahap pertama berupa kepatuhan berdasarkan hukuman dan ganjaran; tahap kedua perbuatan moral anak diorientasikan pada kepentingan individu yang bersifat instrumental hedonistik. Kedua, tingkat konvensional. Seiring dengan tambahnya usia anak, moral anak berkembang ke arah konvensional. Pada tingkat ini juga memiliki dua tahap yaitu tahap orientasi konformitas interpersonal dan orientasi pada hukum dan aturan. Ketiga, tingkat pasca konvensional perkembangan nilai moral anti kosrupsi manusia berada pada tahap orientasi kontrak sosial dan tahap orientasi etis universal. Anak usia SD cenderung berada pada tahap perkembangan moral konvensional. Artinya anak-anak SD akan melakukan suatu perbuatan yang baik sesuai dengan konformitas hubungan interpersonal yang akrab dan intensif. Di samping itu, anak SD akan berbuat baik manakala sesuai dengan hukum dan aturan yang sudah ada dan bukan kesadaran etik universal (Satibi, 2006).
Menurut Slamet Suyanto mengatakan bahwa pendidikan SD merupakan ilmu yang bersifat interdisipiner, meliputi; Pendidikan anak khusus usia 6-12 tahun, Psikologi perkembangan anak, Biologi perkembangan, Neoroscience, Pendidikan jasmani, Pendidikan bahasa dan seni, dan pendidikan bidang sutudi termasuk pendidikan moral (Slamet Suyanto, 2006: 1). Sedang prinsip-prinsip dalam proses belajar mengajar antara lain; Appropriate yaitu pembelajaran yang disesuaikan dengan tumbuh kembang jiwa anak, esensi bermain, holistik atau menyeluruh, terpadu atau integrated, bermakna, long life skills dan fleksibel
Anak sekolah dasar mengalami perkembangan fisik dan motorik, tak kecuali perkembangan kepribadian, watak, emosional, intelektual, bahasa, budi pekerti, dan moralnya yang bertumbuh dengan pesat. Oleh karena itu jika menghendaki bangsa yang cerdas, dan bermoral baik, pendidikan anti kosrupsi harus dimulai sejak masa kanak-kanak dan usia SD.
Pendidikan anti koropsi memerlukan keterlibatan semua aspek kehidupan manusia, sehingga tidak cocok hanya menekankan pada aspek kognitif saja, hal ini dapat membunuh karekater anak. Namun pendikan anti korupsi bagi anak SD harus disesuikan dengan perkembangan jiwa anak, mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia; intelektual, karekater, estetika, dan fisik dan dalam koridor pembelajaran moral yang menyenangkan (Bobbi DePorter & Mike Hernacki, 203: 8).
Dalam usaha mentarsfer nilai-nilai adnti koropsi dapat digunakan pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan tumbuh kembang jiwa anak. Menurut Habibah (Habibah, 2007: 1) dalam sosialisasi pendidikan moral dapat digunakan pendekatan indoktrinasi, klasifikasi nilai, keteladanan, dan perilaku guru. Keempat pendekatan tersebut di atas diharapkan dapat diterapkan sesuai dengan situasi keondisi serta dilakukan secara holistik sehingga tidak akan terjadi tumpang tindih. Pendekatan di atas juga diharapkan guru mengetahui karakteristik siswa maupun kondisi kelas, dan seorang guru harus memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan psikologi pendidikan sehingga kelas kondusif untuk pembelajaran moral anti korupsi.
Pendekatan indoktrinasi dengan cara memberi hadiah atau hukuman, peringatan, dan pengendalian fisik. Sedang pendekatan klasifikasi nilai, dengan cara penalaran dan ketrampilan. Pendekatan keteladanan dengan cara disiplin, tanggung jawab, empati, dan pendekatan pembiasaan dengan cara perilaku seperti berdoa, berterima kasih. Pendekatan habitus diharapkan dapat merubah perilaku moral (Ambarwati, 2007: 1).
Secara kognitif, pemikiran anak SD sedang mengalami pertumbuhan sangat cepat. Menurut Jean Piaget perkembangan kognitif manusia secara operasional formal yaitu anak usia 6 tahun ke atas sudah mulai belajar berpikir abstrak. Pada usia 6 tahun ke atas ini, anak sudah mengenal simbol-simbol abstrak. Namun demikian, pembelajaran dengan menggunakan referensi benda konkrit masih sangat membantu anak memahami simbol-simbol abstrak tersebut. Untuk itu diperlukan kemampuan guru dalam menerjemahkan materi anti korupsi yang abtrak menjadi materi yang konkrit dan mudah dipahami.
Perkembangan sosial anak SD berada pada tahap kesadaran kolektif yang ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri anak dan di luar diri anak. Faktor dari dalam diri anak berupa kondisi internal anak baik fisik, kognitif, sosial emosi, moral, dan spiritual anak. Faktor di luar diri anak adalah lingkungan anak baik lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat kondusif untuk penanaman pendidikan anti korupsi.
Mangunwijaya memiliki idealisme tentang nilai anti korupsi bahwa murid-murid SD dapat dibangun karakternya menjadi anak baik yang memiliki rasa keadilan, suka menolong, mengasihi sesama, hidup rukun, hidup sederhana, cinta tanah air, rela berkorban dan tidak suka mencuri.
Mangunwijaya berpendapat bahwa pendidikan anti korupsi yang efektif dimulai dalam pengalaman sehari-hari dan dalam suasana dialog dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) menciptakan suasana kekluargaan, persahabatan dan keakraban di dalam kelas antara guru dan murid, dan antara murid dengan murid; b) mulai membicarakan masalah tindak korupsi (perbuatan) yang merugikan orang lain berdasarkan pengalaman anak, yaitu masalah-masalah atau perasaan-perasaan yang benar-benar ada dan sedang dipikirkan dan dirasakan oleh peserta didik; c) guru mendengarkan pengalaman yang dibagikan murid, murid lain mendengarkan kawan mereka bercerita; kemudian setiap murid diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat dan perasaan mereka tentang pengalaman baru yang mereka dengar; d) guru memperdalam penghayatan pengalaman murid dengan cara mencari makna yang terselubung dibalik pengalaman tersebut atau mencari nilai-nilai anti korupsi yang terkandung dari pengalaman peserta didik (Stefanus Suyanto Sandjaja, 2007: 66).
Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menyusun rencana pembelajaran dalam konteks Program Identitas Tema (PIT) dengan pendekatan kecerdasan majemuk (terdiri dari kecerdasan logis-matematis, verbal-lenguistik, visual-spesial, tubuh-kinestetik, musikal, antar pribadi, intra pribadi, naturalis dan eksistensialis). Langkah yang dilakukan pertama adalah menentukan topik masalah anti korupsi yang akan dibahas. Kedua adalah menentukan kecerdasan majemuk mana yang akan dikembangkan khususnya kecerdasan intra pribadi, eksistensialis dan spiriutual. Hasil langkah pertama dan kedua disebut pizza kecerdasan majemuk, yaitu model pembelajaran yang berisi topik yang akan dibahas serta aktivitas dan isi pembelajaran dalam setiap kecerdasan majemuk yang relevan perlu diajarkan.
Pengembangan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan menyadari dan menelusiri emosi diri sendiri dan mengelolanya dengan efektif. Beberapa sifat yang harus dikembangkan kepada peserta didik adalah kepekaan terhadap nilai-nilai yang dimiliki; sangat memahami diri sendiri, menyadari emosi diri dengan baik, peka terhadap tujuan hidupnya, mampu mengembangkan kepribadiannya, bisa memotivasi diri sendiri, sangat sadar akan kekuatan dan kelemahannya. Beberapa cara yang harus dilakukan guru terhadap muridnya untuk menumbuh kembangkannya adalah; melatih dialog batin tentang antikorupsi, menggunakan waktu refleksi diri, belajar mandiri, belajar mendengarkan intuisi (suara hati) tentang anti korupsi, berdiskusi
Pengembangan kecerdasan eksistensialis adalah kemampuan dan kepekaan seseorang menjawab persoalan-persoalan terdalam tentang keberadaan manusia. Pertanyaan yang muncul dalam diri manusia; mengapa aku ada?!, apa makna hidupku!, bagaimana mencapai tujuan hidup yang sejati?!, mengapa seseorang harus mati, sesudah mati mau kemana?! Beberapa sifat yang harus dimiliki peserta didik dengan kecerdasan eksistensialis adalah suka bertanya soal kebenaran dan inti persoalan, berpikir kritis, suka merenung, melakukan refleksi diri, dan senang berdiskusi mengenai hakekat hidup. Ada beberapa cara untuk mengembangkan kecerdasan ini, diantaranya adalah mendengarkan khotbah anti korupsi, membaca buku-buku rohani, buku filasat, teologia, mengadakan refleksi diri, menghadiri upacara kematian, mengikuti retreat untuk tidak melakukan korupsi (Stefanus Suyanto Sandjaja, 2007: 71).
Kecerdasan spritual; anak diajarkan tentang nilai-nilai agama yang lebih subtansial untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan sepenuh akal budi atau dengan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Implementasi nilai spiritual ini diharapkan dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam tataran nilai dasar, nilai instrumen dan nilai praksis. Penjabaran nilai praksis diharapkan setiap peserta didik wajib melakukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pembudayaan nilai anti korupsi dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor nilai itu harus dapat merubahan pola pikir, pola sikap dan perilaku peserta didik yang menjauhi korupsi melalui penerapan nilai agama.
Membangun karakter murid anti korupsi adalah tugas guru, pendidikan karakter sangat tepat dimulai sejak dini. Pendidikan anti korupsi diberikan sejak SD akan mengembangkan suara hati lebih kuat, dan anak akan lebih kuat dalam mengendalikan dan mengembangkan tingkah lakunya sesuai dengan nilai-nilai moral yang baik tertanam dalam lubuk hatinya. Pendidikan anti korupsi dengan teori Multiple Intelegences dapat dengan lengkap melibatkan aspek kognisi, emosi, perilaku teramati sehingga perubahan karakter secara holistik anti korupsi dapat dilihat.
Dalam pembelajaran nilai moral ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pembelajaran nilai dapat efektif yaitu perbuatan dan pembiasaan. Oleh karena dengan perbuatan siswa dapat secara langsung melakukan pengulangan perbuatan agar menjadi kebiasaan. Atau nilai anti korupsi yang baik menjadi budaya mereka.
Interaksi antara panutan yang memberi keteladanan pada peserta didik dan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran nilai anti korupsi sangat menguntungkan untuk transfer nilai melalui saling membagi dalam pengalaman. Guru yang baik juga dapat mengerti perasaan, pemahaman, jalan pikiran peserta didik dan mereka diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan sekaligus dapat memberi jalan keluar dalam pergumulan pemilihan nilai anti korupsi yang ada tanpa mengindoktrinasi.
Melalui pemahaman yang mendalam terhadap materi pembelajaran nilai anti korupsi peserta didik dapat memilih berbagai alternatif nilai yang ada dan mengamalkan sebagai wujud aktualisasi diri. Guru sebagai panutan yang meberi hidupnya bagi peserta didik diharapkan dapat merefleksi diri melalui perasaan dan pikirannya setelah merenung dan mendapat masukan sehingga dapat mngetahui sejauh mana pemahaman dan pengamalan nilai anti korupsi yang telah diterima dan dilakukan siswanya.
Ada dua lembaga yang berperan mengajarkan pendidikan anti korupsi yaitu lembaga formal dan non formal, secara formal pendidikan anti korupsi dilakukan oleh sekolah dan non formal oleh keluarga dan masyarakat. Pendidikan anti korupsi melalui keluarga, peran orang tua sangat dominan dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi sejak usia dini seuai dengan tumbuh kembang jiwa anak. Anak-anak akan patuh pada perintah orang tuanya untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan orang lain. Sedang pendidikan anti kroupsi melalui masyarakat biasanya berupa norma sosial. Norma merupakan kaidah, aturan yang mengandung nilai tertentu yang harus dipatuhi warganya, agar kehiupan masyarakat berjalan dengan tertib.
Penutup
Kekerasan terjadi disebabkan karena lingkungan yang tidak kondusif, sehingga menimbulkan depresi, stress yang berat sehingga ada kecenderungan melakukan tindakan tidak terkontrol dan dapat melakukan kekerasan terhadap orang lain maupun diri sendiri; contoh kongkrit para caleg yang gagal melakukan kekerasan terhadap diri sendiri dan orang lain. Faktor penyebab stress sangat kompleks, dari masalah ekonomi, harapan yang tidak terwujud, lingkungan yang keras dan kompetitif, kurangnya nilai agama yang diimplementasikan dalam hidup.
Sosialisasi nilai-nilai anti kekerasan harus diberikan kepada anak usia dini, karena anak usia dini sebagai generasi penerus kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Pendidikan anti kekerasan bisa disosialisasikan melalui lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan 10
Pembentukan karakter sangat tepat dan harus dimulai sejak anak usia dini. Pembentukan karakter anak paling tepat dilakukan oleh orang tua, guru sekolah dan orang-orang yang mempunyai hubungan dekat dengan anak. Pendidikan nilai yang diberikan pada anak usia dini, akan mengembangkan suara hati anak akan lebih kuat dan peka terhadap lingkungan. Anak akan lebih mampu mengendalikan diri sesuai dengan nilai-nilai yang telah membentuk karakternya. Efektifitas pembentukan karakter anak usia dini sangat bergantung pada komitment orang tua, yang menyadari bahwa tugas orang dewasa membentuk anak usia dini agar memiliki karekter yang baik.
Setiap orang dewasa harus menyadari dan memiliki tanggung jawab. bahwa mereka mendapat amanah dan harus berkomitment seumur hidup untuk menumbuh kembangkan karakter pada diri anak usia dini. Orang tua juga dipanggil untuk memiliki komitment seumur hidup sebagai agent perubahan sesuai dengan panggilannya. Orang dewasa mempunyai posisi strategis sebagai pemimpin sepatutnya berkomitmen dalam mengembangkan dan menampilkan karakter-karakter yang ideal; luhur baik dan cinta terhadap sesamanya. Pemimpin dipanggil untuk memiliki dampak luas untuk mempersiapkan anak usia dini dalam konteks mempersiapkan generasi muda yang lebih baik.
Penyebab korupsi adalah berakar pada akhlak manusia yang bobrok, mental dan moralitas manusia yang rusak atau dalam konsep teologi disebut total depravity yang merupakan faktor mendasar mengapa manusia bertindak korupsi. Ibn Khaldun mengatakan bahwa akar penyebab korupsi adalah nafsu untuk hidup mewah dikalangan kelompok yang berkuasa. Orang Indonesia penyebab korupsi adalah harta (materi), tahta (kekuasaan) dan wanita (hawa nafsu) (KR 12 Desember 2009: 12).
Dr. Andrik Purwasito menawarkan pembrantasan korupsi dengan pendekatan budaya. Oleh karena selama ini kebijakan pembrantasan korupsi dengan pendekatan hukum, ekonomi, politik, sementara pendekatan budaya belum deberdayakan.
Korupsi telah berlangsung selama ini sebenarnya telah tumbuh berakar dalam budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu paling tepat menggunakan pendekatan budaya untuk mengatasi korupsi. Pendekatan budaya yang dimaksud adalah penanaman adanya nilai rasa malu jika berbuat korupsi, atau merugikan orang lain. Kondisi seperti ini jelas ada yang salah dalam proses pendidikan kita, seharusnya guru membiasakan peserta didik memiliki rasa malu ketika melakukan kesalahan. Pengenalan rasa malu ini harus disosialisasikan sejak anak usia dini, sekolah dasar. Jadi sebelum anak mengenal masalah hukum, politik, ekonomi sebaiknya peserta didik ditanamkan memiliki rasa malu. Termasuk di dalamnya budaya mengundurkan diri dari jabatannya, ketika terbukti melakukan kesalahan fatal. Jikalau nilai-nilai ini tidak diajarkan pada peserta didik sejak usia dini, sekolah dasar akan mengakibatkan menjadi generasi yang tidak mempunyai rasa malu.
Rasa malu harus dijadikan hal utama dalam kehidupan berbangsa, atau bagian yang penting untuk membrantas korupsi. Oleh karena kenyataannya; meski sudah terbukti sebagai koruptor, masih tampil tersenyum bagai selebrety (bintang sinitron) di depan publik. Sampai saat ini belum pernah ada pejabat yang mengundurkan diri akibat melakukan tindak korupsi. Contoh dugaan keterlibatan korupsi terhadap Bank Century yang dilakukan Wapres Budiono dan Mentri Keuangan Sri Mulyani tidak mau mengundurkan diri, karena tidak diajarkan rasa malu jika melakukan tindakan bodoh.
Melalui pendekatan budaya malu guru dapat mengajarkan rasa malu kepada peserta didik maupun mengundurkan diri jika tidak mampu menyelesaikan permasalahan. (Andrik, Menejemen Komunikasi Lintas budaya di Tengah dinamika dan Perubahan Global, KR, 10 Desember 2009: 18 ).
Menurut Ari Sujito dalam ”Gerakan Sosial Anti Korupsi” cara membrantas korupsi adalah dengan gerakan sosial, karena publik tidak manginginkan sekedar penegakkan hukum tetapi mentransfer nilai-nilai sikap anti korupsi dari pendekatan hukum menjadi sebuah gerakan sosial (Kedaulatan Rakyat, 9 Desember 2009: 23).
Secara sosiologis sesungguhnya praktik korupsi sudah terbongkar, tetapi secara hukum korupsi masih berlangsung, sebab seringkali bukti sosial politik praktik korupsi gagal dikonversi menjadi bukti hukum. Adapun penyebabnya karena penegak hukum tidak mampu mengkombinasikan bukti hukum dalam pendekatan sosial politik bahkan kedalam budaya. Hukum akhirnya hanya sebagai instrumen legalistic, sehingga hukum tidak mampu menembus gunung es peradilan. Pada hakikatnya, disiplin tidak untuk menghukum, tapi untuk koreksi dan latihan membimbing tindakan ke masa depan. Dengan demikian, untuk mengarahkan kepada tujuan yang sebenarnya, disiplin harus lebih kompleks dan lebih luas daripada sekadar hukuman.
Dalam usaha menanamkan disiplin pada anak, satu hal yang sangat menentukan, yaitu orang tua harus dapat membedakan antara keinginan dan perbuatan. Dalam hal perbuatan, orang tua dapat turun tangan dan membatasi bila perlu. Tetapi dalam hal keinginan dan harapan- harapan, sebaiknya orang tua memberi kebebasan.
 DAFTAR PUSTAKA
Andrik, Menejemen Komunikasi Lintas budaya di Tengah dinamika dan Perubahan Global, Kedaulatan Rakyat, 10 Desember 2009:
Ari Sujito dalam ”Gerakan Sosial Anti Korupsi” Kedaulatan Rakyat, 9 Desember 2009: 23).
Budi Istanto, 2007. Pentingnya Pendidikan Moral Bagi Generasi Penerus. Yogyakarta: FIP. UNY.
Franz Magnis Suseno SJ. 2006. Demokrasi. “Maksud dan Makna Demokrasi”. Google.
Hendrowibow, l. 2007. “Pendidikan Moral”, Majalah Dinamika, FIP, UNY.
Ignas Kleden. 2003: Demokrasi “Demokrasi dan Distorsiny: Politik Reformasi di Indonesia”. Google.
Kaelan. 2004. Pendidikan Pancasila. Fakultas Filsafat UGM.
LAI, 2003, Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia. 8
Sunarso, dkk. 2005. Pendidikan Kewarganegara, Yogyakarta: UPT MKU UNY
Udin SW., 2006. Pendidikan Kewarganegaraan, Yogyakarta, FISE, UNY.
Umar Said, 2007. Google Pendidikan Moral.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda