Kamis, 19 Januari 2012

FACEBOOK, MASLAHAT ATAU MUDHARAT?



Di zaman modern ini, sudah tidak asing lagi bagi kita dengan adanya internet dan berbagai jaringan situs pertemanan melalui dunia maya. Sebut saja Facebook, Twitter, Blogger, Formspring, Google, dan masih banyak lagi yang menawarkan jasa untuk memperluas koneksi dengan ribuan orang tanpa batasan waktu dan tempat. Perkembangan facebook di dunia cukup luar biasa pengaksesnya khususnya Indonesia. Facebook mendapatkan perhatian yang lebih dalam bahasan ini mengingat penggunanya terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Sekarang facebook tidak hanya digunakan oleh kaum remaja dan dewasa, namun juga anak-anak yang masih dibawah umur  kadang sudah mempunyai akun Facebook. Bayangkan, betapa kentalnya pengaruh Facebook di lingkungan sekitar kita. Saya berfikir, Apakah Facebook berguna untuk kita?
Facebook Selain berfungsi sebagai media jejaring sosial, bisa digunakan juga sebagai sarana pemasaran produk apapapun. Seseorang dapat menjalin silaturrahim dengan teman lama, keluarga, kolega serta dapat bertukar pikiran, informasi pengalaman, bahkan curhat dengan pasangan yang diminatinya. Facebook dapat pula dimanfaatkan untuk mengkampanyekan suatu ide dan gagasan. Dapat pula dimanfaatkan sebagai ruang diskusi antarkomunitas melalui group atau pages, sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan pengetahuan anggotanya. Bahkan mencari nafkah melalui Facebook dengan membuat akun online shop yang semakin marak di Facebook. Belum lagi bagi mereka yang menjual chip pada sebuah permainan online yang ditawarkan oleh facebook.
Banyak manfaat yang ditawarkan oleh facebook namun tak sedikit pula dampak negative yang diakibatkan oleh facebook. Mari kita telaah satu persatu dampak negative dari situs pertemanan berikut,
Pertama, menurunkan kinerja. Ditengarai bahwa sebagian besar pegawai, karyawan, dosen mahasiswa menggunakan Facebook pada saat jam kerja sedang berlangsung, karena alasan jenuh, refreshing, mendinginkan otak dan lain sebagainya. Artinya, telah terjadi pengurangan waktu untuk bekerja dan menyelesaikan kewajibannya. Maka konsekuensi logisnya adalah produktivitas menjadi berkurang. Bahkan Negara China sempat menutup akun facebook bagi rakyatnya karena khawatir akan mempengaruhi kualitas kerja para pekerja di negeri gingseng tersebut.
Kedua, perhatian terhadap keluarga berkurang. Kerapkali para pengguna membuka Facebook pada saat bercengkrama dengan keluarga. Sebuah riset di Inggris menunjukkan, waktu orang tua bersama anak-anak semakin sedikit, karena berbagai alasan, salah satunya karena Facebook. Kemungkinan dapat terjadi, seorang suami sedang menulis dinding, si istri sedang membuat koment di foto, sementara anak-anak diurus pembantu. Sebuah reduksi pencapaian keluarga sakinah, mawaddah warohmah. Kadang facebook juga ditenggarai menjadi penyebab seseorang berselingkuh dengan pengguna facebook lainnya.
Ketiga, terjadinya jaringan kehidupan sosial. Berkelana dengan Facebook sangat nyaman dan mengasyikkan. Maka, sebagian orang merasa cukup membangun berinteraksi sosial melalui Facebook saja, sehingga mengurangi frekuensi bertemu muka. Momentum bertemu muka membuahkan pembicaraan, tatapan mata, ekspresi wajah, tangis, canda dan tawa. Hal tersebut tidak dapat digantikan dengan pertemuan di dunia maya, tidak bisa ditukar oleh rentetan kata-kata bahkan video sekalipun.
Keempat, batasan ranah pribadi dan sosial menjadi kabur. Para Facebooker memiliki kebebasan untuk menuliskan ide, gagasan, pemikiran, bahkan perasaannya sekalipun, tanpa disadari hal tersebut tidak terlalu pantas, bahkan tidak memenuhi kelayakan etika dan estetika untuk disampaikan pada lingkup sosial. Kadang persoalan rumah tangga seseorang tanpa sadar bisa diketahui orang lain, cukup dengan hanya memperhatikan status dari orang tersebut.
Keliman, dapat terjadi kesalahpahaman. Facebook merupakan jaringan sosial yang sifatnya terbuka antara user dan jejaringnya, sebagaimana layaknya pada kehidupan nyata, maka gosip atau informasi miring dapat berkembang dengan sangat cepat melebihi batas ruang dan waktu. Harus disadari sepenuhnya bahwa ketika menulis pada status, wall (dinding) dan komentar di berbagai aplikasi sama saja seperti obrolan pada kehidupan nyata, bahkan efeknya mungkin lebih parah karena bahasa tulisan terkadang menimbulkan multi tafsir. Banyak terjadi kasus pemecatan seorang karyawan gara-gara menulis yang tidak semestinya di Facebook. Terjadi pula penuntutan ke pengadilan gara-gara kesalahpahaman di Facebook. Bahkan, kasus terbaru adalah pencemaran nama baik seorang guru yang dilakukan oleh muridnya sendiri.
Keenam, mempengaruhi kesehatan. Tentang pengaruh tersebut masih dalam perdebatan sebab belum didukung oleh argumentasi ilmiah, meski dalam sebuah artikel di media Inggris menyebutkan bahwa Facebook dapat meningkatkan stroke dan penyakit lainnya. Hal itu bukan disebabkan oleh Facebook-nya, tetapi karena kebiasaan duduk berlama-lama di depan komputer.
Kecanggihan dunia teknologi informasi dan komunikasi selalu membawa pengaruh positif dan negatif, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Peneliti Madya BPPKI Bandung, C. Suprapti Dwi Takariani,M.Si mengatakan, berdasarkan penelitian Provinsi Jabar dan Banten, dimensi intensitas chatting melalui facebook berpengaruh signifikan terhadap komunikasi tatap muka remaja dalam keluarga. Chatting, atau pesan online ditenggarai bisa menggantikan kehadiran seseorang berkat kecepatannya transfer datanya. Padahal semua itu belum mampu menggantikan semua perasaan yang ada pada diri seseorang.
Ada baiknya kita semua mengingat kaidah fiqh (hukum Islam): Menghindari perbuatan yang berpotensi merusak, harus didahulukan daripada mengambil manfaatnya. Terpulang kepada masing-masing individu untuk membuat interpretasi dan pengambilan sikap, manakala berkeyakinan Facebook hanyalah sebuah media untuk memudahkan kita menjalankan misi dan tujuan pencapaian keberhasilan yang kita emban, maka tidak menjadi masalah untuk tetap menjadi Facebooker. Namun, jika diyakini telah merasuki jiwa, hati serta pikiran, sehingga mengakibatkan perkara yang mafsadat (merusak), sebaiknya segera dihindari atau setidaknya kita sesuaikan frekuensinya. Wacana tentang Facebook halal atau haram telah banyak didiskusikan di ruang-ruang publik. Namun lagi-lagi semua itu kembali pada diri kita, jadilah pengguna facebook yang pintar, dan mampu memaksimalkan sisi positif dari facebook semaksimal mungkin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda