Kamis, 19 Januari 2012

WISATA DAN TEMPAT-TEMPAT YANG SERING DIKUNJUNGI ANAK



a.      Keluarga
Di dalam keluarga anak-anak mendapatkan kasih dan sayang. Apalagi ketika kasih dan sayang itu diterima secara penuh dari kedua orang tuanya. Karena dari sinilah akan muncul manusia yang sehat secara mental.
      Kasih sayang akan lengkap bilamana di dalam keluarga tidak ada kekerasan, baik antara pasangan suami istri atau para anggota keluarga lainnya orang kepada anak, ataupun dari lingkungannya. Rasulullah saw., bersabda yang artinya: “ Dari Aisyah ra., ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya dan paling lembut akhlaknya dan paling lembut memperlakukan keluarganya.”(Sunan al-Tirmidzi, 2537)
      Seperti inilah gambaran keluarga sakinah, yang didambakan dalam Islam. Yang kemudian diharapkan dari itu semua adalah terciptanya generasi Islam yang sehat dan kuat, baik secara ekonomi dan fisik serta mental dan spiritual.
      Disinilah orang tua memiliki peran yang cukup signifikan untuk memberikan yang terbaik untuk keturunannya. Hitam-putih kehidupan anak sangat ditentukan oleh orang tuanya. Tantangan bagi semua orang tua adalah bagai mana menjadikan keluarga sebagai basis untuk membentengi seluruh anggota keluarga dari berbagai hal negatif yang mungkin terjadi disekitar lingkungannya; meningkatkan kesehatan seluruh anggota keluarga; menciptakan suasana yang kendusif yang dapat mendukung tumbuh kembang anak menjadi manusia yang sehat dan kuat dari segala sisi. Sabda Nabi Muhammad saw, yang artinya: “ Dari Abi Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw bersabda: ‘ Setiap anak terlahir dalam keadaan suci-bersih, maka orang tuanya yang akan menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”(Shahih Al-Bukhari, 1297)[1]
      Di antara faktor yang banyak berpengaruh bagi timbulnya kenakalan anak, rusaknya akhlak dan hilangnya kepribadian mereka adalah keteledoran kedua orang tua dalam memperbaiki diri anak, mengarahkan dan mendidiknya.[2]
     

b.      Jalanan.

Jalanan tempat bermain dan lalu lalang anak-anak terdapat banyak manusia dengan berbagai macam perangai, pemikiran, latar belakang sosial dan pendidikan. Dengan beragam latar belakang, mereka sangat membahayakan proses pendidikan anak, karena anak belum memiliki filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk.
Di sela-sela bermain, anak akan mengambil dan meniru perangai serta tingkah laku temannya atau orang yang sedang lewat; sehingga terkadang mampu merubah pemikiran lurus menjadi rusak, apalagi mereka mempunyai kebiasaan rusak, misalnya perokok, pemabuk dan pecandu narkoba; maka mereka lebih cepat menebarkan kerusakan di tengah pergaulan anak-anak dan remaja.[3]
jalanan tempat bermain anak-anak terdapat berbagai macam perangai, pemikiran, latar belakang sosial dan pendidikan maka diatara mereka ada yang terpengaruh dengan musik jahiliah dan lagu-lagu cengeng. Sehingga interaksi anak dengan teman-teman main dan jalanan akan memberi pengaruh pada pemikiran, pemahaman, tingkah laku dan karakter maka pengaruh jalanan dalam pendidikan anak tidak bisa diremehkan. Dari selah-selah bermain anak mengambil dan meniru perangai dan tingkah laku temannya sehingga terkadang teman mampu merubah pemikiran lurus menjadi rusak apalagi teman-teman yang rusak, perokok, pemabuk, pecandu narkoba, maka mereka lebih cepat menebarkan kerusakan ditenggah pergaulan muda mudi.[4]

c.       Sekolah.

Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.
Begitu juga para pengajar berasal dari berbagai latar belakang pemikiran dan budaya serta kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap aqidah yang lurus? Ataukah sebagai pengekor budaya dan pemikiran Barat yang rusak? Ataukah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan racun pemikiran dan budaya busuk, sehingga menghancurkan anak-anak kita? Seorang pengajar merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu dîn (agama) yang Shahîh sesuai dengan pemahaman Salafush-Shalih dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik. Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan.[5]


[1] Mulia Musdah Siti, 2011. Membangun Surga di Bumi, Jakarta, PT. Elex Media Komputindo. Hal. 135
[2] Ulwan Nashih Abdullah, 2007. Pendidikan Anak Dalam Islam, Jakarta, Pustaka Amani. Hal. 145
[3] http://www.ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan/17567/
[4] Al-Maghribi bin Al-Maghribi Said, 2006.  Begini Seharusnya Mendidik Anak, Jakarta, PT. Pustaka Darul Haq. Hal. 269
[5]  http://www.ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan/17567/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda