Kamis, 19 Januari 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK


 
A.                PERILAKU ANAK TERHADAP SAUDARA-SAUDARANYA
a.    Mencintai Saudara Termasuk Kesempurnaan iman.

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.
b.    Memilih Teman yang Baik
Orang tua wajib mengarahkan anak-anak, serta menekankan mereka untuk memilih kawan, teman duduk maupun teman dekat yang baik. Hendaknya orang tua menjelaskan kepada anak tentang manfaat di dunia dan di akhirat apabila duduk dan bergaul dengan orang-orang shalih, dan bahaya duduk dengan orang-orang yang suka melakukan kejelekan ataupun teman yang jelek. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 154)
Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mencari tahu setiap keadaan anak, menanyakan tentang teman-temannya. Betapa banyak terjadi seorang anak yang jelek mengajak teman-temannya untuk berbuat kemungkaran dan kerusakan, serta menghiasi perbuatan jelek dan dosa di hadapan teman-temannya. Padahal anak kecil seringkali meniru, suka menuruti keinginannya serta suka mencari pengalaman baru. Oleh karena itu, orang tua hendaknya berupaya agar anak berteman dengan teman-teman yang baik dan shalih, serta berasal dari keluarga yang baik. Di samping itu juga berupaya untuk memuliakan teman-teman si anak agar mudah memberi bimbingan dan arahan pada mereka dan mereka pun akan bersikap lembut di hadapan orang tua. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 155)
Bila suatu ketika orang tua mendapati anaknya berbuat kejelekan dan kerusakan, tidak mengapa orang tua berusaha mencari tahu tentang keadaan anaknya. Walaupun dengan hal itu mereka terpaksa melakukan salah satu bentuk perbuatan tajassus (mata-mata). Ini tentu saja dengan tujuan mencegah kejelekan dan kerusakan yang terjadi, karena sesungguhnya Allah k tidak menyukai kerusakan. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 156)
Inilah kiranya sebuah kewajiban yang tak boleh dilupakan oleh setiap orang tua. Hendaknya orang tua mengingat sebuah ucapan yang dituturkan oleh ‘Amr bin Qais Al-Mala`I v: “Sesungguhnya pemuda itu sedang tumbuh. Maka apabila dia lebih mengutamakan untuk duduk bersama orang-orang yang berilmu, hampir-hampir bisa dikata dia akan selamat. Namun bila dia cenderung pada selain mereka, hampir-hampir dia rusak binasa.” (Dinukil dari Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, bab Hukmus Salaf ‘alal Mar`i bi Qarinihi wa Mamsyahu no.517).
c.    Memilih Teman Dimasa pertengahan Anak-anak.
usia 5 sampai 12 tahun.
Berteman merupakan salah satu bagian terpenting di masa pertengahan kanak-kanak – sebuah ketrampilan sosial yang akan terus melekat di sepanjang hidupnya. Secara perkembangan, anak-anak usia sekolah sudah siap untuk membentuk hubungan yang lebih kompleks. Mereka mulai mampu mengkomunikasikan baik perasaan maupun pikirannya, dan mereka dapat mengerti konsep waktu dengan lebih baik – lampau, saat ini dan masa datang. Di usia ini mereka tidak lagi harus terus bersama keluarga atau mementingkan diri sendiri, tetapi mulai mengandalkan teman sebaya untuk bersahabat, menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman dibandingkan ketika mereka masih berada di usia pra sekolah. Hari demi hari mereka lewati dengan saling berbagi kesenangan dan kesusahan masa kanak-kanak.
Beberapa faktor dapat menjadi pertimbangan anak anda ketika mereka memilih teman. Jika ia memperlakukan dirinya dengan baik, atau jika ia telah dihargai dan dicintai oleh keluarganya, maka kemungkinan besar ia berhasil memilih teman yang benar. Jika hubungan anda dan pasangan baik, dan jika anak anda memiliki hubungan yang saling mendukung dan saling memperhatikan dengan saudara-saudaranya, dengan demikian ia telah melihat dan mengalami contoh positif tentang bagaimana orang dapat berhubungan baik, dan kesan ini akan dibawa ke dalam hubungan persahabatan, termasuk terhadap teman-teman yang dipilihnya. Sebaliknya, jika hubungan keluarganya tidak mendukung, maka kemungkinan ia akan mencari teman yang mempunyai masalah yang serupa. Luangkanlah waktu untuk membantu anak anda dengan memahami mengapa ia memilih teman-teman seperti yang telah ia lakukan. Hali ini bisa menjadi peluang untuk mendiskusikan nilai-nilai yang ia terapkan, perasaan maupun perilakunya.
-          Persahabatan yang Sehat
Persahabatan yang sehat adalah persahabatan dimana anak-anak memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada anak yang mendominasi yang lain untuk membuat semua keputusan aktivitas-aktivitas yang akan mereka jalankan. Mereka perlu berbagi dan berusaha untuk menyenangkan satu sama lain. Mereka juga perlu untuk mampu memecahkan masalah mereka sendiri: jika seorang anak ingin bermain dengan mainan milik temannya, mereka mungkin akan membuat suatu jadwal sehingga semua anak bisa mendapat giliran. Atau mereka mungkin akan merencanakan aktifitas lain yang dapat mereka lakukan bersama.
Kemampuan berbahasa penting untuk membangun dan menguatkan hubungan persahabatan yang baik. Selama masa pertengahan kanak-kanak, teman-teman belajar untuk berkomunikasi dengan jelas dengan yang lain, berbagi rahasia, cerita, perasaan bahkan lelucon. Anak-anak yang memiliki masalah dengan berbahasa atau berbicara sering kali mengalami kesulitan untuk berteman, sering menggunakan kata-kata yang tidak tepat dan tidak menangkap pesan dan kata-kata implisit dari teman sebayanya – verbal maupun non-verbal.
-          Teman yang Baik
Di masa pertengahan kanak-kanak beberapa anak memusatkan aktivitas sosial pada satu orang sahabat. Dalam hubungan seperti ini anak-anak umumnya merasa dirinya cocok dengan seseorang yang sepenuhnya cocok dengannya, seseorang yang mampu memenuhi kebutuhan mereka untuk persahabatan, persetujuan dan keamanan. Ini dapat menjadi persahabatan yang indah, sesuatu yang kelihatannya hanya mereka bayangkan bahwa mereka akan bersama selamanya – terkadang memang benar-benar mereka lakukan. Meskipun orang tua sering khawatir bahwa hubungan istimewa ini bisa saja membatasi dan mengekang, dan cemas anak-anak mereka sudah terlalu jauh dalam hubungan tunggal ini, kebanyakan ahli justru tidak setuju. Berbagi pengalaman, pikiran dan perasaan dengan seseorang yang istimewa seringkali lebih terasa memuaskan dibandingkan dengan menghabiskan waktu dengan sebuah kelompok besar, selama kedua teman ini sudah saling memberikan pengaruh positif dan tidak mencegah diri mereka untuk menimba pengalaman yang lebih luas.
-          Pengaruh Negatif
Berhadapan dengan pengaruh negatif pertemanan merupakan suatu tantangan, tetapi tentu saja ada solusinya. Beberapa orang tua meminta anaknya untuk berhenti menghabiskan waktu dengan “si pengaruh negatif”, tapi ini bisa saja bukan merupakan strategi yang terbaik. Pada sebagian besar kasus, strategi yang lebih baik adalah dengan memperkuat persahabatan-persahabatan positif dengan anak-anak lain yang memiliki perilaku dan nilai-nilai yang sesuai dengan persetujuan anda. Doronglah anak anda mengundang anak-anak ini untuk bermain di rumah. Susunlah aktifitas-aktifitas yang terstruktur, menyenangkan satu sama lain, dan mempunyai batas waktu, seperti boling, bersepeda, atau menonton pertandingan olahraga. Di waktu yang sama, jangan ragu untuk menyatakan kejengkelan anda terhadap teman-teman yang kurang cocok. Bicaralah dengan baik-baik dan rasional ketika anda menjelaskan mengapa anda lebih senang anak anda tidak bermain dengan anak tersebut. Biarkan ia mengetahui konsekuensinya jika ia tidak lagi mengikuti perilaku buruk yang anda lihat pada anak tersebut, jika anda masih tidak bisa benar-benar melarang anak anda untuk bermain dengannya. Pendekatan ini akan mengajarkan anak anda untuk berfikir lebih logis dan bertanggung jawab atas tindakannya, dan menunjukkan bahwa anda percaya pada perkembangan.

Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Oleh sebab itu, Al-Qur‘ân dan as-Sunnah sangat menaruh perhatian dalam masalah persahabatan.
Allah berfirman, yang artinya:Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (Qs. al-Kahfi/18:28).
Allah berfirman memberitakan penyesalan orang kafir pada hari Kiamat, yang artinya: Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur‘an ketika Al-Qur‘an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Qs. al-Furqân/25:28-29).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya: “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya”.
Dari Abu Musa al-Asy’ari, ia bersabda: “Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir.”
Sahabat memberi pengaruh dan mewarnai perilaku temannya, seperti kata Imam Syafi’i dalam syairnya: Saya mencintai orang-orang shalih walaupun aku tidak seperti mereka. Semoga dengan mencintai mereka aku mendapatkan syafaat-Nya.
Aku membenci seseorang karena kemaksiatannya,
meskipun kami dalam hal perbelakan hampir sama.

B.     GURU YANG SHOLEH
Para sahabat dan ulama salaf sangat bersemangat untuk memilih guru yang saleh bagi anak – anak. Demikian juga dengan guru yang akan menjadi cermin bagi si anak yang  merefleksikan segala gerak – gerik dan tutur katanya untuk terpatri didalam jiwa dan akal si anak. Guru merupakan sumber penyerapan ilmu bagi anak.
            Mereka memberikan nasehat kepada anak – anak untuk menerapkan adab – adab sebelum menuntut ilmu yang telah dibahas yaitu : membentuk akhlak islami anak. Hal itu yang dilakukannya suatu perjalanan menuntut ilmu samapi ketempat si guru yang shaleh ini, mereka melakukan dengan senang hati dan tanpa beban dan kesulitan. Dalam perjalanan yang  jauh memberikan beban finansial kepada orang tuanya.
            Untuk membangun mentalitas anak cinta ilmu pengetahuan secara sehat dan benar, sebesar dan semahal apapun biaya yang diperlukan serasa ringan untuk dikeluarkan.
            Ibnu Sina dalam kitab as- siyashah mengatakan sepatutnya anak memiliki guru yang pandai, taat beragama, berakhlak mulia, mengerti kemauan anak, bersahaja, berwibawa, tidak sering bercanda, tidak suka marah, tidak suka membentak dan mengeluarkan kata - kata yang tidak layak dihadapan anak, tidak keras dan kasar, cerdas, murah senyum, enak dipandang, bersih dan rapi.

C.    PEMBANTU YANG SHOLEH
Para pembantu memiliki peran dan pengaruh sangat besar dalam pendidikan anak karena membantu mempunyai waktu lama tinggal bersama anak terutama pada usia balita sementara pada masa tersebut anak sangat sensitif dari berbagai macam pengaruh sebab pada usia itu masa awal pembentukan pemikiran akidah dan serta emosional.
Pengaruh pembantu sangat besar pada pendidikan anak karena ia bertanggung jawab penuh terhadap anak dari mulai mengasuh, merawat, meyuapi makanan, menyiapkan permainan, dan waktu istirahat, menangani anak ketika menangis dan memenuhi segala kebutuhan dan permintaan anak sementara sang pembantu tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan pendidikan anak atau tidak. Akhirnya pembantu menjadi rujukan utama bagi anak ketika kedua orang tua tidak ada atau sedang di rumah sehingga pembantu menjadi tempat mengadu dan curhat dalam kehidupan.
            Dari situ sang pembantu mulai  menyebar racun pemikiran, ideologi dan kebiasaan dan tingkah laku kepada anak asuhnya. Padahal di antara pembantu ada yang kafir penyembah berhala, api dan sapi dan walaupun pembantu seorang wanita muslimah tetap saja hanya memiliki kadar agama dan akhlak yang rendah dan bahkan menyimpan keyakinan sesat dan syirik. Sehingga anak mendapati sebagian anak menyembah api dan sebagian mereka meyembah binatang atau berhala Budha akibat pengaruh pembantu ketika mereka jauh dari kedua orang tua.
Para pembantu memiliki peran cukup signifikan dalam pendidikan anak, karena pembantu mempunyai waktu yang relatif lama tinggal bersama anak, terutama pada usia balita. Sedangkan pada fase tersebut, anak sangat sensitif dari berbagai macam pengaruh. Pada masa usia itu merupakan masa awal pembentukan pemikiran dan aqidah, serta emosional. Begitu juga tetangga, mereka bisa membawa pengaruh, karena anak-anak kita kadang harus bermain ke rumahnya.

D.    MEDIA MASSA DAN PENGARUHNYA
a.      Media Massa
Menurut Drs. Asep Hery Hernawan, M.Pd, media merupakan saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah bearti perantara, yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Mereka mencontohkan media ini dengan film, televisi, diagram, bahan tercetak (printed materials), komputer dan instruktur.
Masih banyak guru saat ini yang menganggap bahwa peran media dalam proses pembelajaran hanya terbatas sebagai alat bantu semata dan boleh diabaikan manakala media itu tidak tersedia di sekolah. Media juga merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan. Tanpa media maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif.
a.       Televisi
Televisi merupakan media massa elektronik yang sangat digemari oleh masyarakat. Karena televisi menyampaikan informasi melalui suara dan gambar sekaligus. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya mampu menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya terbius untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Dengan berbagai acara yang ditayangkan seperti sinetron, entertainment, infotainment, iklan, dan sebagainya.
Televisi hadir sebagai sarana untuk hubungan dan komunikasi antar manusia. Sebenarnya televisi memiliki beberapa fungsi, yaitu :
1) Fungsi rekreatif                 
Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan.
2) Fungsi educatif
Selain untuk menghibur, televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan yang ditampilkan.
3) Fungsi informatif
Televisi dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi akan menambahkan wawasan.
Ironisnya kini yang sering kita jumpai, acara-acara televisi lebih mementingkan pada fungsi informatif dan rekreatif saja, sedangkan fungsi educatif yang merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan sangat jarang ditemui.
Anak-anak dan televisi adalah dua komponen yang susah dipisahkan. Mereka adalah perpaduan yang sangat kuat. Tak banyak hal lain dalam kebudayaan manusia yang mampu menandingi kemampuan televisi dalam menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka.
Begitu pula minat mereka dengan televisi. Mereka menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Mereka merasa terlayani dengan adanya televisi. Dengan adanya televisi anak-anak akan melupakan kesulitannya, dengan adanya televisi mereka gunakan untuk mengisi waktu, mempelajari sesuatu, memberikan rangsangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan. Kebiasaan menonton televisi bagi anak sebenarnya kurang baik. Banyak sekali tayangan yang disajikan oleh stasiun televisi yang tidak mendidik. Bahkan tak jarang ditemui acara-acara yang berbahaya bagi anak. Sering sekali ditayangkan dalam televisi acara yang berbau kekerasan, adegan pacaran yang mestinya belum pantas ditonton oleh anak, tidak hormast kepada orang tua, gaya hidup yang hura-hura. [7]

b.      Media Elektronik dan Cetak.
Kedua media ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan, tingkah laku dan kepribadian anak. Kalau orang tua tidak berhatihati dan waspada terhadap kedua media ini. Tidak jarang anak-anak akan tumbuh sebagai mana yang ia peroleh dari kedua media ini.
c.       Radio dan Televisi
Dunia telah terbuka lebar bagi kita, dan dunia pun sudah berada di hadapan kita, bahkan di depan mata kita melalui beragam channel TV. Sarana-sarana informasi, baik melalui beragam radio dan televisi memiliki pengaruh yang sangat berbahaya dalam merusak pendidikan anak.
Dari sisi lain, radio dan televisi sebagai sumber berita, wahana penebar wacana baru, menimba ilmu pengetahuan dan menanamkan pola pikir pada anak. Namun kedua media itu juga menjadi sarana efektif dan senjata pemusnah massal para musuh Is-lam untuk menghancurkan nilai-nilai dasar Islam dan kepribadian islami pada generasi muda, karena para musuh selalu membuat rencana dan strategi untuk menghancurkan para pemuda Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Dalam buku Protokolat, para pemuka Yahudi menyatakan, bila orang Yahudi hendak memiliki negara Yahudi Raya, maka mereka harus mampu merusak generasi muda. Oleh karena itu, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menjerat generasi muda, terutama anak-anak. Mereka berhasil menebarkan racun kepada generasi muda dan anak-anak melalui tayangan film-film horor atau mistik yang mengandung unsur kekufuran dan kesyirikan. Tujuannya, ialah untuk menanamkan keyakinan dan pemikiran yang rusak pada para pemuda dan anak-anak. Misalnya, seperti film-film yang berjudul atau bertema Manusia Raksasa, Satria Baja Hitam, Xena, Spiderman. Atau seperti halnya film-film Nusantara yang kental dengan nilai-nilai yang merusak moral dan lain-lain. Atau film dunia hewan, seperti Ninja Hatori dan Pokemon. Atau film peperangan antara makhluk luar angkasa dengan penduduk bumi, atau manusia planet yang menampilkan orang-orang telanjang yang tidak menutup aurat dan mengajak anak-anak untuk hidup penuh romantis atau berduaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram, atau melegalisasi perbuatan zina sehingga mereka melakukan zina dengan mudah, gampang dan bukan suatu aib, serta tidak perlu dihukum; bahkan dalam pandangan mereka orang yang mampu merebut wanita dari tangan orang lain dianggapnya sebagai pahlawan. Lebih parah lagi, film-film sejenis itu banyak ditayangkan dan cukup banyak diminati oleh kalangan muda dan orang dewasa.
Acara televisi seperti itu sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan kepribadian dan akhlak anak, serta merobohkan sendi-sendi aqidah yang telah tertanam kokoh, sehingga para pemuda menjadi generasi yang labil dan lemah, tidak memiliki kepribadian.
Ada seorang dokter yang kini aktif di salah satu yayasan. Di salah satu stasiun televisi, dia bercerita bahwa dirinya mulai mencoba merokok sejak kelas 4 SD, kemudian minum minuman keras, menghisap ganja, dan itu terus berlangsung hingga saat kuliah di kedokteran dengan kadar semakin besar. Yang menarik disini, ternyata yang menjadi motivasi sang dokter ini melakukan hal itu, karena ia ingin meniru gaya yang ditampilkan di dalam film koboi, bahwa seorang tokoh koboi kelihatan gagah berani dengan menenggak minuman keras. Sang dokter juga mengatakan, selama melakukan hal itu tidak ada yang memberi pengajaran atau pun mengingatkannya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dan waspada terhadap bahaya televisi.
d.      Internet.
Dari hari ke hari, semakin nampak jurang pemisah antara peradaban Barat dan fitrah manusia. Setiap orang yang menggunakan hati kecil dan pendengarannya dengan baik, pasti ia akan menyaksikan, betapa budaya Barat telah merobek dan mencabik-cabik nilai kemanusiaan, seperti dalam hal internet. Media ini telah menyumbangkan dampak negatif, sebab bahaya yang timbul dari internet lebih banyak daripada manfaatnya. Bahkan media ini sudah mengenyampingkan nilai kemuliaan dan kesucian dalam kamus kehidupan manusia. Misalnya, ada suatu situs khusus yang menampilkan berbagai gambar porno, sehingga dapat menjerat setiap muda mudi dengan berbagai macam perbuatan keji dan kotor. Akibat yang ditimbulkan ialah kehancuran. Inilah perang pemikiran yang paling dahsyat dan berbahaya yang dicanangkan Yahudi untuk menghancurkan nilai Islam dan generasi muslim. Banyak negara-negara Eropa dan Arab merasa sangat terganggu dan mengalami berbagai kenyataan pahit akibat kehadiran media internet ini. Wahai para pendidik, jagalah anak-anakmu dari bahaya racun media tersebut!
e.       Telepon.
Manfaat telepon pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi, dan bahkan telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Namun sangat disayangkan, ternyata kenikmatan tersebut berubah menjadi petaka dan bencana yang menghancurkan sebagian rumah tangga umat Islam.
Telepon, jika tidak digunakan sesuai dengan manfaatnya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim. Seringkali kejahatan menimpa keluarga muslim berawal dari telepon, baik berupa penipuan, pembunuhan, maupun perzinaan. Dan yang sering terjadi, baik pada remaja maupun orang dewasa, yaitu hubungan yang diharamkan bermula dari telepon. Karena dengan telepon, kapan saja hubungan bisa terjalin dengan mudah; apalagi sekarang, alat ini semakin canggih dan biayapun semakin murah.
Ada sebuah kisah nyata, seorang gadis belia menyerahkan kehormatannya kepada seorang laki-laki yang haram untuknya karena telepon. Awalnya, dari saling berbicara kemudian mengikat janji untuk bertemu, dan akhirnya perbuatan keji terjadi. Akhirnya, siapakah yang nanggung derita? Banyak juga terjadi, seorang ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga berselingkuh berawal dari telepon, wa iyyadzubillah.
Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh pesawat ini. Gunakan telepon dengan semestinya. Hindari penggunaan yang tidak penting, disamping menghemat biaya juga terhindar dari bahaya. Dan yang perlu diwaspadai, telepon dengan lawan jenis, baik seorang murid dengan gurunya, atau seorang thalabul ‘ilmi dengan ustadz, apalagi di antara para remaja putra maupun putri; karena setan tidak akan membiarkan kalian selamat dari jeratannya. Allahu musta’an.
f.       Majalah dan Cerpen Anak

Majalah dan buku-buku cerita sangat berperan penting dalam membentuk pola pikir dan ideologi anak. Sementara itu, majalah anak yang beredar di negeri kita, baik majalah anakanak maupun majalah remaja, isinya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang banyak ditonjolkan adalah syahwat dan hidup konsumtif. Ironisnya, media ini banyak dijadikan sebagai rujukan oleh anak-anak dan para remaja kita. Pengaruh majalah tersebut sangat besar dalam mempengaruhi generasi muda, sehingga banyak kita temui gaya hidup dan pola pikir mereka meniru dengan yang mereka dapatkan dari majalah yang kebanyakan pijakannya diambil dari budaya orang-orang kafir.

Padahal Al-Qur‘an yang mulia, banyak memuat cerita-cerita, seperti kisah tentang sapi Bani Israil, kisah tentang Ashabul-Kahfi dan pemilik kebun dalam surat al-Kahfi, kisah pertarungan antara kekuatan hak dengan batil, dan kisah-kisah umat-umat zaman dahulu yang diberi sanksi Allah akibat pelanggaran mereka terhadap perintah-Nya, serta seluruh kisah-kisah para nabi dan rasul. Disamping itu, masih banyak kisah-kisah yang benar dari as- Sunnah untuk menanamkan keteladanan para sahabat dan umat sebelumnya.

Oleh sebab itu, majalah dan buku-buku cerita memiliki peran yang sangat
urgen, memiliki pengaruh sangat signifikan dalam membentuk pola pikir dan tingkah laku serta pendidikan anak. Anak-anak sangat gemar dan tertarik dengan berbagai kisah, karena kisah mengandung daya tarik, hiburan, lelucon, kepahlawanan, amanah, dan kesatriaan.
g.      Komik dan Novel.
Komik banyak digandrungi oleh anakanak kecil atau remaja, bahkan orang dewasa. Namun bacaan ini, sekarang banyak memuat gambar-gambar yang tidak sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak. Begitu pula novel, rata-rata berisi percintaan, dongeng palsu, cerita legendaris, penuh dengan muatan syirik dan kekufuran, serta cerita romantika picisan.

E.     LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL KELUARGA
Penggunaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna (meaningfull learning) sebab anak dihadapkan dengan keadaan dan situasi yang sebenarnya. Hal ini akan memenuhi prinsip kekonkritan dalam belajar sebagai salah satu prinsip pendidikan anak usia dini.
Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan mendorong pada penghayatan nilai-nilai atau aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya. Kesadaran akan pentingnya lingkungan dalam kehidupan bisa mulai ditanamkan pada anak sejak dini, sehingga setelah mereka dewasa kesadaran tersebut bisa tetap terpelihara.
Penggunaan lingkungan dapat menarik bagi anak
Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik bagi anak sebab lingkungan menyediakan sumber belajar yang sangat beragam dan banyak pilihan. Kegemaran belajar sejak usia dini merupakan modal dasar yang sangat diperlukan dalam rangka penyiapan masyarakat belajar (learning societes) dan sumber daya manusia di masa mendatang.

A. Rumah.

Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani. Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlak dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih. Nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda:
Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah.6 Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan menjadi sarang setan, sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya mewarnai hidupnya, maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.


F.                 WISATA DAN TEMPAT-TEMPAT YANG SERING DIKUNJUNGI ANAK
a.       Jalanan.

Jalanan tempat bermain dan lalu lalang anakanak terdapat banyak manusia dengan berbagai macam perangai, pemikiran, latar belakang sosial dan pendidikan. Dengan beragam latar belakang, mereka sangat membahayakan proses pendidikan anak, karena anak belum memiliki filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk.
Di sela-sela bermain, anak akan mengambil dan meniru perangai serta tingkah laku temannya atau orang yang sedang lewat; sehingga terkadang mampu merubah pemikiran lurus menjadi rusak, apalagi mereka mempunyai kebiasaan rusak, misalnya perokok, pemabuk dan pecandu narkoba; maka mereka lebih cepat menebarkan kerusakan di tengah pergaulan anak-anak dan remaja.
jalanan tempat bermain anak-anak terdapat berbagai macam perangai, pemikiran, latar belakang sosial dan pendidikan maka diatara mereka ada yang terpengaruh dengan musik jahiliah dan lagu-lagu cengeng. Sehingga interaksi anak dengan teman-teman main dan jalanan akan memberi pengaruh pada pemikiran, pemahaman, tingkah laku dan karakter maka pengaruh jalanan dalam pendidikan anak tidak bisa diremehkan. Dari selah-selah bermain anak mengambil dan meniru perangai dan tingkah laku temannya sehingga terkadang teman mampu merubah pemikiran lurus menjadi rusak apalagi teman-teman yang rusak, perokok, pemabuk, pecandu narkoba, maka mereka lebih cepat menebarkan kerusakan ditenggah pergaulan muda mudi.
b.      Sekolah.

Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.
Begitu juga para pengajar berasal dari berbagai latar belakang pemikiran dan budaya serta kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap aqidah yang lurus? Ataukah sebagai pengekor budaya dan pemikiran Barat yang rusak? Ataukah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan racun pemikiran dan budaya busuk, sehingga menghancurkan anak-anak kita? Seorang pengajar merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu dîn (agama) yang Shahîh sesuai dengan pemahaman Salafush-Shalih dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik. Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum tersebut berasal dari manhaj Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan ajaran Allah, sunnah Rasul dan ajaran Salafus-Shalih? Ataukah hanya sekedar menegakkan nilai dan wawasan kebangsaan, semangat nasionalisme dan kesukuan?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda